Bangun dari Tidurnya
Kehidupan ini memberikan pelajaran besar atas kelemahan
ini. Aku tidak tahu hari esok akan seperti apa. Yang pasti jika aku tidak
berjuang hari ini, esok akan menjadi hari yang tidak ingin ku jalani. Hidup ini
akan tetap indah jika kedua orang tuaku masih ada, meskipun setiap hari aku
harus bekerja keras demi sesuap nasi untuk kakak perempuan dan adik kecil ku. Setelah
kami ditinggal sebulan yang lalu, ibuku meninggal karena sakit dan bapak ku
menyusul karena tragedi kecelakaan. Kini tidak ada lagi eksistensi canda dan
tawa ayah dan ibu.
Tapi, aku percaya
Allah pasti merencakan hidup ku dan saudaraku yang indah esok hari. Dengan
kondisi berat ini menimpa kami, aku akan tetap setia melantunkan pujian ini
kepadap-Nya atas rasa syukur ku, diberikan kesehatan dan umur panjang.
Bagaimana kami masih bisa mengecap kebahagian dan ketentraman. Kebahagiaan ku saat ini adalah masih ada
tetanggaku dan teman sebayaku yang mau membantu dan setia menjadi kawan karib,
laksana dalam satu ikatan sahabat sampai mati.
Hari demi hari kami jalani penuh perjuangan, tak ada
waktu bagi ku untuk terlelap setelah pulang sekolah, tak ada rasa kenyang
sehabis pulang sekolah, tak layaknya seperti orang pada umunya. Selepas pulang
sekolah adalah waktunya bagi ku untuk bekerja menjualkan bakso milik orang lain dengan berkeliling kampung.
Meski sinar matahari disiang hari menembus ke saluran darah ku, kulitku hitam
terbakar, tekad ku adalah baja yang tidak
bisa di lahap olehnya. Aku tidak boleh mudah menyerah meski diriku sakit, karena kaki ini harus terus berjalan, demi menyambung
hidup ini.
Sebagai manusia biasa akupun pernah merasa galau melihat
sedemikian kondisi ini menimpa kami. Kadang aku berpikir dan menuntut keadilan Tuhan “Ya Allah kenapa hidup kami seperti ini,
dimanakah letak keadilan-Mu“. Rasa sedih, marah dan galau tercampur tak sedap
untuk di pandang, dan tertimbun dalam di rongga hatiku. Tapi rasa iman ini
memberikan ku sebuah kepercayaan dan membinasakan rasa pesimisme, demi
menggapai impian ku walaupun dengan kondisi seperti ini. Aku percaya Allah Maha
Besar atas kehendak-Nya.
Tekad dan seluruh perjuangan ku tidak akan pernah padam
walaupun terbakar dengan gejolak api panas. Aku sadar diriku tidak akan mampu
terbang tanpa dengan segenap perjuangan
yang ada. Allah Maha Besar, tidak ada satu hal pun yang bisa mengalahkan
ke Maha Besaran-Nya. Oleh karenanya, kaki ku akan tetap berdiri kokoh walaupun
sepuluh, seratus, sejuta bahkan berkali-kali kegagalan menimpa diriku, kan ku
simpan dalam jiwa ku untuk terus berusaha totalitas dalam menggapai semua
cita-cita kemuliaan hidup ini. Dan aku percaya bahwa dengan terus berjuang,
kami akan bisa merasakan manisnya hidup di bumi ini esok hari.
Dalam situasi yang hina dan rendah, telah menjadikanku seorang
insan yang bisa mengecap sedikit rasa syukur kepada Tuhan , manusia yang kokoh
dan teguh dalam menjalani hidup ini.
Skema hidup memberikanku pelajaran, banyak orang-orang
besar berhasil lantaran kalah dalam
perjuangan hidup. Dimana mereka mengalami bagaimana sakitnya tertimpa batu
berkali-kali, bagaimana rasa sakitnya kulit disayat pisau tajam, dan
orang-orang di sekitarnya pada bisu dan mematung. Tapi, mereka tidak pernah
kalah dengan panasnya matahari dan dinginnya air hujan, dengan tekad yang
begitu kuat mereka terus berlari meski dalam kondisi apapun. mereka tidak memperdulikan seberapa banyaknya
kegagalan menimpa mereka, tetapi seberapa banyaknya mereka bangkit dari
kejatuhannya.
Banyak tokoh terkenal yang bisa ku jadikan inspirasi sebagai
pelecut rasa semangat ini. Ya, seperti
Muhamad Saw, Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, dll. Mereka adalah
orang-orang yang memiliki rasa dewa tidak mudah menyerah walaupun berbagai hal
pahit telah menimpa.
Aku yang sekarang ini akan terus berjuang sebelum ruh dan
jasad ini terpisah. Karena hidup adalah pilihan , “Hidup adalah pilihan. Apapun
yang kamu pilih hari ini akan menentukan masa depanmu“. SMKN2SMD.
Makanya, ku lakukan apa yang ingin ku lakukan dan ku
kerjakan apapun yang ingin ku kerjakan. Selama diriku ini merasa senang,
walaupun fisik akan mengeluarkan keringat darah sekalipun. Banyak orang
menghinaku atas kondisi ini, kami hidup sebatang kara yang tidak punya bapak
dan ibu. Kami adalah orang yang hina dina, makan pun kami peroleh dari hasil
kerja kami sendiri pada hari itu pula.
Tak ada persediaan makan untuk hari esok. Jika kami tidak mendapatkan uang hari
ini ,maka kami mesti rela dengan segenap keikhlasan suci tidak makan apapun dihari
itu juga.
Akulah yang menjadi tulang punggung saat ini. Karena kedua saudaraku adalah perempuan yang
suci dimana tubuhnya telah dibasuh dengan tetesan airmata ikhlas dan air
keringat penderitaan. Percayalah, “Suatu saat nanti hidup kita lebih berkah“.
Lirih hati ku. Oleh karenanya, aku harus bisa mendapatkan uang bagaimanapun
caranya.
...
Dengan berkeliling kampung selama beberapa jam cukup
banyak orang yang membeli.. Bakso ini ku jual dengan harga 5.500,- permangkok.
Alhamdulilllah dari harga tersebut aku bisa mendapatkan upah 500 dari setiap
mangkok yang terjual.
Waktu adzan asar pun tiba, ku sempatkan untuk mendirikan
salat sebagaimana kewajiban umat islam pada umumnya.
Tidak jarang setiap diriku salat, ada saja anak kecil
bahkan seumuran dengan ku mengambil bakso dari panci yang ku tengteng untuk
berjualan. Maka tidak sering juga aku mendapatkan kemarahan dari pemilik bakso.
Pernah suatu hari, upah yang harus ku terima dari kerja kerasku, dibayarkan
untuk mengganti kerugian bakso tadi. Apa mau dikatakan, aku ikhlas saja.
Selesai salat, selalu ku panjatkan do’a kepada-Nya “Ya Allah Maha Suci Engkau, hambamu yang hina dina
ini bertafakur memanjatkan do’a kepada-MU. Tidak ada yang lebih besar kecuali
Engkau, tidak ada yang jauh lebih hebat, gagah, megah dan sempurna kecuali
Engkou. Ya Allah hamba meminta dari sekecil Maha Besar kesempurnaan-Mu, Berikanlah
hamba dan saudaraku rizki-Mu, Senantiasa lindungilah kami dari kejahatan,
kuatkanlah dengan kesabaran, kegigihan, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan
ini. Hamba percaya esok hari akan menjadi hari yang kami nantikan, dimana hari
penuh kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan. Karenanya, Engkoulah satu
satunya tempat kami untuk meminta dan berlindung serta bisa mengabulkan do’a
kami dari apa yang kami butuhkan. Aaminn Ya Rabb“. Tetesan air mata dengan
penuh harapan.
Sehabis itu, ku lanjutkan pekerjaan ini. Tapi sebelum
menengtengnya, ku biasakan diri untuk mengecek apakah bakso nya masih utuh
ataukah kejadian masa lalu akan terulang kembali. “Alhamdulillah semuanya masih
utuh“. Lirih hati sedikit gembira. Ku lanjutkan perjalanan ini menyusuri tempat
pojokan dari kampung ke kampung.
Kulihat jam tanganku menunjukan pukul 16:10. Jam inilah yang selalu menemaniku kemanapun aku
pergi, jika saja tidak ada jam ini, maka aku akan sering kesorean dan terlambat
pulang kerumah, padahal kakak dan adikku sudah menunggu untuk makan malam
bersama. Jam ini adalah hadiah yang kudapatkan dari ciki jaguar pembelian ayahku
pada bulan lepas kemaren. Selain untuk mengingatkan ku kepada waktu, jam inilah
ku anggap sebagai tanda bahwasannya ayah
dan ibu masih hidup di sampingku kemanapun aku pergi.
...
Untuk menambah penghasilan, kakak perempuan ku pula
bekerja di tempat orang. Setiap pagi pukul 05.30 hingga 08.00 dan siang 11.00
sampai 14.00, menjualkan gorengan milik
orang lain dengan berkeliling kampung. Dan adik ku selalu ikut berjuang bersama
kakaknya, kemanapun kakakku pergi adik ku mengikutinya, karena entah akan bagaimana
jika adikku ditinggal di rumah sendirian.
Mereka begitu giat dan gigih untuk mencari uang demi
makan kita bersama. Mereka selalu bekerja dengan penuh keikhlasan, tidak kalah
dengan dinginnya hujan dan tak luntur karena panasnya matahari, mereka seperti
mesin yang terus bekerja, sebelum pemilik mematikannya.
“Gorengan.. gorengan.. gorengann..“ suara mereka nyaring
menembus tembok perumahan.
Dan tak
kalah nyaringnya, adikku pula menawarankan “Gorengan.. goregan yeuhh...500-an“
Dimana usia
harus duduk di bangku sekolah. tapi sungguh malang nasib adikku. Dia harus
membantu bekerja demi kelangsungan hidup kita bersama. Kadang aku sedih,
melihat mereka bercucuran keringat melawan panasnya matahari dan dinginnya
hujan. Yang begitu sedih, masih ku ingat minggu lepas tepatnya hari sabtu ,
kakakku dan adiknya kehujanan basah kuyup setelah berjualan. Akibatnya adikku
sakit selama 5 hari dan karenanya sebagian uang yang ku dapatkan untuk cukup
makan selama dua hari. Maka dengan segenap keridhoan hati, uang tersebut ku
belikan obat demi kesembuhan adikku yang ku sayangi.
Begitu kejam dunia ini menimpakan segenap kemalangan
menyertai kami bersama. Pernah terbersit di pikiran ku, apakah negeri ini betul
sudah merdeka ? kalau ya. Dimana letak kemerdekaannya, wong kami sengsara
begini. Sedangkan, mereka para pejabat pada hidup bersenang-senag, rumah
mentereng, berkolam emas, bersayap uang, dan berlembaga. Sedangkan disini kami terpuruk
dalam kondisi hina dina layaknya sampah yang dianggap tak berguna. Apakah
seperti ini yang namanya merdeka ?
Begitu ketirnya nasib kami yang senantiasa di timpa
kemalangan bertubi-tubi. “Oh Ya Allah berikanlah kami kekuatan untuk menghadapi
semua cobaan ini dan jalan untuk
memperbaiki kehidupan kami saat ini dan selanjutnya“. Aaminn.
...
Malam pun tiba, alhamdulillah uang yang ku peroleh hari
ini dari berjualan bakso sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi ialah Rp.
8.000,-. Sedangkan hasil yang didapat oleh kakak dari berjualan gorengan alhamdulillah
naik daripada hari kemarin yaitu Rp. 4.000,-. Jadi pendapatan hari ini yang
kami peroleh
sebesar Rp. 12.000,- dan ini cukup bagi kami membeli makanan dan
persedian buat besok.
Malam ini limpahan berkah Tuhan menyertai rizki kami.
Kami bisa menyantap makanan dengan lahap walaupun makanannya begitu sederhana.
Tapi bagi kami, itu seperti makan daging ayam lengkap dengan sayurannya yang begitu nikmat. karena seharian kami hanya
makan sekali saja. Kadang dua kali, tapi itu juga pemberian tetangga ku.
Setelah makan bersama, ku sempatkan untuk belajar dan
mengerjakan PR sekolah. Karena, aku juga memiliki impian besar sama seperti
yang lainnya pengabdi bangsa ialah Tentara. Semoga harapan besar ku bisa ku
gapai dengan senantiasa ada dalam keridhoan-Nya.
Sebelum tidur, kami sering bermain sejenak bersama untuk
menghilangkan rasa kegalauan. Tapi, malam ini kami sempatkan untuk melihat foto
ayah dan ibunda kami untuk mengobati rasa kerinduan yang tiada tara. “Semoga
ayah dan ibu tenang di alam sana. Allah mencintaimu ayah.. ibu.. . dan do’akan
kami disini ..untuk selalu bisa ‘Bangun dari tidur‘ dan tegar menghadapi ini
semua serta taat kepada-Nya“. Do’a kami bersama. “Kami menyayangimu ayah..
ibu..“
Hari esok akan jauh lebih baik dari hari sekarang.
InsyaAllah.
Goebahan : Chefi AL Shard Al-A'zham
Semoga bisa menjadi penambah nutr isi jiwa.
