Halaman

Kamis, 15 September 2016

Kisah ku "Bangun dari Tidur Sendiri"



Bangun dari Tidurnya





Kehidupan ini memberikan pelajaran besar atas kelemahan ini. Aku tidak tahu hari esok akan seperti apa. Yang pasti jika aku tidak berjuang hari ini, esok akan menjadi hari yang tidak ingin ku jalani. Hidup ini akan tetap indah jika kedua orang tuaku masih ada, meskipun setiap hari aku harus bekerja keras demi sesuap nasi untuk kakak perempuan dan adik kecil ku. Setelah kami ditinggal sebulan yang lalu, ibuku meninggal karena sakit dan bapak ku menyusul karena tragedi kecelakaan. Kini tidak ada lagi eksistensi canda dan tawa ayah dan ibu. 

Tapi, aku percaya  Allah pasti merencakan hidup ku dan saudaraku yang indah esok hari. Dengan kondisi berat ini menimpa kami, aku akan tetap setia melantunkan pujian ini kepadap-Nya atas rasa syukur ku, diberikan kesehatan dan umur panjang. Bagaimana kami masih bisa mengecap kebahagian dan ketentraman.  Kebahagiaan ku saat ini adalah masih ada tetanggaku dan teman sebayaku yang mau membantu dan setia menjadi kawan karib, laksana dalam satu ikatan sahabat sampai mati.

Hari demi hari kami jalani penuh perjuangan, tak ada waktu bagi ku untuk terlelap setelah pulang sekolah, tak ada rasa kenyang sehabis pulang sekolah, tak layaknya seperti orang pada umunya. Selepas pulang sekolah adalah waktunya bagi ku untuk bekerja menjualkan bakso  milik orang lain dengan berkeliling kampung. Meski sinar matahari disiang hari menembus ke saluran darah ku, kulitku hitam terbakar, tekad ku adalah baja yang  tidak bisa di lahap olehnya. Aku tidak boleh mudah menyerah  meski diriku sakit, karena kaki  ini harus terus berjalan, demi menyambung hidup ini. 

Sebagai manusia biasa akupun pernah merasa galau melihat sedemikian kondisi ini menimpa kami. Kadang aku berpikir dan menuntut keadilan Tuhan  “Ya Allah kenapa hidup kami seperti ini, dimanakah letak keadilan-Mu“. Rasa sedih, marah dan galau tercampur tak sedap untuk di pandang, dan tertimbun dalam di rongga hatiku. Tapi rasa iman ini memberikan ku sebuah kepercayaan dan membinasakan rasa pesimisme, demi menggapai impian ku walaupun dengan kondisi seperti ini. Aku percaya Allah Maha Besar atas kehendak-Nya.

Tekad dan seluruh perjuangan ku tidak akan pernah padam walaupun terbakar dengan gejolak api panas. Aku sadar diriku tidak akan mampu terbang tanpa dengan segenap perjuangan  yang ada. Allah Maha Besar, tidak ada satu hal pun yang bisa mengalahkan ke Maha Besaran-Nya. Oleh karenanya, kaki ku akan tetap berdiri kokoh walaupun sepuluh, seratus, sejuta bahkan berkali-kali kegagalan menimpa diriku, kan ku simpan dalam jiwa ku untuk terus berusaha totalitas dalam menggapai semua cita-cita kemuliaan hidup ini. Dan aku percaya bahwa dengan terus berjuang, kami akan bisa merasakan manisnya hidup di bumi  ini esok hari. 

Dalam situasi yang hina dan rendah, telah menjadikanku seorang insan yang bisa mengecap sedikit rasa syukur kepada Tuhan , manusia yang kokoh dan teguh dalam menjalani hidup ini.

Skema hidup memberikanku pelajaran, banyak orang-orang besar berhasil  lantaran kalah dalam perjuangan hidup. Dimana mereka mengalami bagaimana sakitnya tertimpa batu berkali-kali, bagaimana rasa sakitnya kulit disayat pisau tajam, dan orang-orang di sekitarnya pada bisu dan mematung. Tapi, mereka tidak pernah kalah dengan panasnya matahari dan dinginnya air hujan, dengan tekad yang begitu kuat mereka terus berlari meski dalam kondisi apapun. mereka  tidak memperdulikan seberapa banyaknya kegagalan menimpa mereka, tetapi seberapa banyaknya mereka bangkit dari kejatuhannya.

Banyak tokoh terkenal yang bisa ku jadikan inspirasi sebagai pelecut  rasa semangat ini. Ya, seperti Muhamad Saw, Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, dll. Mereka adalah orang-orang yang memiliki rasa dewa tidak mudah menyerah walaupun berbagai hal pahit telah menimpa.

Aku yang sekarang ini akan terus berjuang sebelum ruh dan jasad ini terpisah. Karena hidup adalah pilihan , “Hidup adalah pilihan. Apapun yang kamu pilih hari ini akan menentukan masa depanmu“. SMKN2SMD.
Makanya, ku lakukan apa yang ingin ku lakukan dan ku kerjakan apapun yang ingin ku kerjakan. Selama diriku ini merasa senang, walaupun fisik akan mengeluarkan keringat darah sekalipun. Banyak orang menghinaku atas kondisi ini, kami hidup sebatang kara yang tidak punya bapak dan ibu. Kami adalah orang yang hina dina, makan pun kami peroleh dari hasil kerja kami  sendiri pada hari itu pula. Tak ada persediaan makan untuk hari esok. Jika kami tidak mendapatkan uang hari ini ,maka kami mesti rela dengan segenap keikhlasan suci tidak makan apapun dihari itu juga.

Akulah yang menjadi tulang punggung saat ini.  Karena kedua saudaraku adalah perempuan yang suci dimana tubuhnya telah dibasuh dengan tetesan airmata ikhlas dan air keringat penderitaan. Percayalah, “Suatu saat nanti hidup kita lebih berkah“. Lirih hati ku. Oleh karenanya, aku harus bisa mendapatkan uang bagaimanapun caranya.
...
Dengan berkeliling kampung selama beberapa jam cukup banyak orang yang membeli.. Bakso ini ku jual dengan harga 5.500,- permangkok. Alhamdulilllah dari harga tersebut aku bisa mendapatkan upah 500 dari setiap mangkok yang terjual.

Waktu adzan asar pun tiba, ku sempatkan untuk mendirikan salat sebagaimana kewajiban umat islam pada umumnya.

Tidak jarang setiap diriku salat, ada saja anak kecil bahkan seumuran dengan ku mengambil bakso dari panci yang ku tengteng untuk berjualan. Maka tidak sering juga aku mendapatkan kemarahan dari pemilik bakso. Pernah suatu hari, upah yang harus ku terima dari kerja kerasku, dibayarkan untuk mengganti kerugian bakso tadi. Apa mau dikatakan, aku ikhlas saja.

Selesai salat, selalu ku panjatkan do’a kepada-Nya “Ya  Allah Maha Suci Engkau, hambamu yang hina dina ini bertafakur memanjatkan do’a kepada-MU. Tidak ada yang lebih besar kecuali Engkau, tidak ada yang jauh lebih hebat, gagah, megah dan sempurna kecuali Engkou. Ya Allah hamba meminta dari sekecil Maha Besar kesempurnaan-Mu, Berikanlah hamba dan saudaraku rizki-Mu, Senantiasa lindungilah kami dari kejahatan, kuatkanlah dengan kesabaran, kegigihan, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan ini. Hamba percaya esok hari akan menjadi hari yang kami nantikan, dimana hari penuh kebahagiaan, ketentraman, dan keberkahan. Karenanya, Engkoulah satu satunya tempat kami untuk meminta dan berlindung serta bisa mengabulkan do’a kami dari apa yang kami butuhkan. Aaminn Ya Rabb“. Tetesan air mata dengan penuh harapan.

Sehabis itu, ku lanjutkan pekerjaan ini. Tapi sebelum menengtengnya, ku biasakan diri untuk mengecek apakah bakso nya masih utuh ataukah kejadian masa lalu akan terulang kembali. “Alhamdulillah semuanya masih utuh“. Lirih hati sedikit gembira. Ku lanjutkan perjalanan ini menyusuri tempat pojokan dari kampung ke kampung.

Kulihat jam tanganku menunjukan pukul 16:10. Jam  inilah yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, jika saja tidak ada jam ini, maka aku akan sering kesorean dan terlambat pulang kerumah, padahal kakak dan adikku sudah menunggu untuk makan malam bersama. Jam ini adalah hadiah yang kudapatkan dari ciki jaguar pembelian ayahku pada bulan lepas kemaren. Selain untuk mengingatkan ku kepada waktu, jam inilah  ku anggap sebagai tanda bahwasannya ayah dan ibu masih hidup di sampingku kemanapun aku pergi.
...
Untuk menambah penghasilan, kakak perempuan ku pula bekerja di tempat orang. Setiap pagi pukul 05.30 hingga 08.00 dan siang 11.00 sampai 14.00,  menjualkan gorengan milik orang lain dengan berkeliling kampung. Dan adik ku selalu ikut berjuang bersama kakaknya, kemanapun kakakku pergi adik ku mengikutinya, karena entah akan bagaimana jika adikku ditinggal di rumah sendirian.

Mereka begitu giat dan gigih untuk mencari uang demi makan kita bersama. Mereka selalu bekerja dengan penuh keikhlasan, tidak kalah dengan dinginnya hujan dan tak luntur karena panasnya matahari, mereka seperti mesin yang terus bekerja, sebelum pemilik mematikannya.

“Gorengan.. gorengan.. gorengann..“ suara mereka nyaring menembus tembok perumahan.
Dan tak kalah nyaringnya, adikku pula menawarankan “Gorengan.. goregan yeuhh...500-an“

Dimana usia harus duduk di bangku sekolah. tapi sungguh malang nasib adikku. Dia harus membantu bekerja demi kelangsungan hidup kita bersama. Kadang aku sedih, melihat mereka bercucuran keringat melawan panasnya matahari dan dinginnya hujan. Yang begitu sedih, masih ku ingat minggu lepas tepatnya hari sabtu , kakakku dan adiknya kehujanan basah kuyup setelah berjualan. Akibatnya adikku sakit selama 5 hari dan karenanya sebagian uang yang ku dapatkan untuk cukup makan selama dua hari. Maka dengan segenap keridhoan hati, uang tersebut ku belikan obat demi kesembuhan adikku yang ku sayangi.

Begitu kejam dunia ini menimpakan segenap kemalangan menyertai kami bersama. Pernah terbersit di pikiran ku, apakah negeri ini betul sudah merdeka ? kalau ya. Dimana letak kemerdekaannya, wong kami sengsara begini. Sedangkan, mereka para pejabat pada hidup bersenang-senag, rumah mentereng, berkolam emas, bersayap uang, dan berlembaga. Sedangkan disini kami terpuruk dalam kondisi hina dina layaknya sampah yang dianggap tak berguna. Apakah seperti ini yang namanya merdeka ?

Begitu ketirnya nasib kami yang senantiasa di timpa kemalangan bertubi-tubi. “Oh Ya Allah berikanlah kami kekuatan untuk menghadapi semua  cobaan ini dan jalan untuk memperbaiki kehidupan kami saat ini dan selanjutnya“. Aaminn.
...
Malam pun tiba, alhamdulillah uang yang ku peroleh hari ini dari berjualan bakso sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi ialah Rp. 8.000,-. Sedangkan hasil yang didapat oleh kakak dari berjualan gorengan alhamdulillah naik daripada hari kemarin yaitu Rp. 4.000,-. Jadi pendapatan hari ini yang kami peroleh 
 sebesar Rp. 12.000,- dan ini cukup bagi kami membeli makanan dan persedian buat besok.

Malam ini limpahan berkah Tuhan menyertai rizki kami. Kami bisa menyantap makanan dengan lahap walaupun makanannya begitu sederhana. Tapi bagi kami, itu seperti makan daging ayam lengkap dengan sayurannya  yang begitu nikmat. karena seharian kami hanya makan sekali saja. Kadang dua kali, tapi itu juga pemberian tetangga ku.

Setelah makan bersama, ku sempatkan untuk belajar dan mengerjakan PR sekolah. Karena, aku juga memiliki impian besar sama seperti yang lainnya pengabdi bangsa ialah Tentara. Semoga harapan besar ku bisa ku gapai dengan senantiasa ada dalam keridhoan-Nya.

Sebelum tidur, kami sering bermain sejenak bersama untuk menghilangkan rasa kegalauan. Tapi, malam ini kami sempatkan untuk melihat foto ayah dan ibunda kami untuk mengobati rasa kerinduan yang tiada tara. “Semoga ayah dan ibu tenang di alam sana. Allah mencintaimu ayah.. ibu.. . dan do’akan kami disini ..untuk selalu bisa ‘Bangun dari tidur‘ dan tegar menghadapi ini semua serta taat kepada-Nya“. Do’a kami bersama. “Kami menyayangimu ayah.. ibu..“

Hari esok akan jauh lebih baik dari hari sekarang. InsyaAllah.

Goebahan : Chefi AL Shard Al-A'zham
Semoga  bisa menjadi penambah nutr isi jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara