Halaman

Kamis, 06 Februari 2020

Narasi Motivasi Perjuangan Ayah untuk Keluarganya

Welcome to my blogg. Have nice a day and Always God Bless Us.


Kau Tak Pernah Lelah


Ayahmu adalah seorang pejuang. Dia tidak mau melihat bahwa anaknya kelaparan, sedih, dan bahkan terlihat memalukan dihadapan teman-teman. Maka ayahmu berjuang pagi-malam tiada henti. Dia rela melakukan kerja keras setiap hari tanpa diketahui oleh anaknya karena ayahmu mengerti bahwa kamu harus terlihat seperti orang punya pada umumnya. Walaupun uang yang didapatkan oleh ayahmu hanya cukup untuk mu. Dia merelakan beberapa hari tidak makan nasi hanya karena anaknya tidak dipermalukan oleh teman-temannya.

Kita sebagai anak sudah tentu merasa bahagia setiap hari karena semua keperluan bisa dipenuhi hasil kerja keras ayah. Hanya ada sebagian anak yang masih peduli ingin melihat kerja ayah dan setelah mengetahui kerja keras ayahnya ia ingin membantu mencari penghasilan tambahan. Namun, yang sedih ada pula sebagian anak yang tidak peduli dengan kerja keras ayah yang dilakukannya. Dia hanya berpikir bagaimana semua keperluannya bisa terpenuhi saja, tak peduli ayahnya setiap hari keluar keringat harus kerja keras dari pagi sampai malam bahkan keluar darah sekalipun.

Memang bila menggunakan antropologi manusia bahwa manusia itu punya karakternya masing-masing. Namun, hal itu sebetulnya bisa saja diubah atau didik mulai sejak dini agar bisa menghormati kedua orang tuanya. Ketika dibandingkan dengan teori Islam bahwa seorang muslim dan muslimah harus berbakti kepada orang tuanya.

Tidak begitu banyak anak menyadari begitu sulit perjuangan hidup dan menghidupi dari seorang ayah untuk keluarganya. Ia berjuang berdasarkan profesinya masing-masing. Ada yang dijalanan, ada yang di kantor, ada yang di sekolah, ada yang di laut, ada yang di hutan dan lainnya sebagai tempat kerjanya. Tentu setiap tempat kerja memiliki tingkat beban dan resiko yang berbeda-beda. Namun, apapun itu tetap saja seorang ayah bekerja keras untuk keluarga tercintanya walaupun kadang ada pula pekerjaan yang dilakukan nyawalah sebagai taruhannya.

Melalui tulisan semoga bisa menyadarkan para pembaca dimanapun bahwa begitu berat perjuangan seorang ayah untukmu. Jadi janganlah kau kecewakan dia yang telah menukar darahnya dengan makanan yang kau santap dengan nikmat. Sadarlah telah banyak perbuatanmu yang sudah melukai hati ayahmu. Tidak ada lagi pintu maaf dan rasa bahagia yang tiada kentara melihat ayah mu tersenyum jika meninggal saat ini juga. Maka peluk dan ciumlah dia. Mintalah doa dan ridhanya agar hidupmu mulia dan penuh manfaat.

Seorang ayah terkadang tidak peduli dengan apa yang ia kerjakan, yang terpenting baginya ialah melihat keluarganya tidak kelaparan dan kebutuhan bisa terpenuhi. Bisa makan setiap hari, anak bisa sekolah, rumah sederhana, kebutuhan dapur cukup, kebutuhan anak terpenuhi dan lain sebagainya.

Wahai anak yang belum mencintai ayahnya, wahai anak yang belum memeluk ayahnya, wahai anak yang punya dendam pada ayahnya, wahai anak yang tidak peduli dengan ayahnya, wahai anak yang durhaka pada ayahnya. Sadarlah, pulanglah, peluk dan ciumlah ayahmua, mintalah doa dan ridhanya. Tuhan akan memberkahi hidupmu jika kau dapat ridha dari ayahmu. Ingatlah ayahmulah yang sudah berjuang membesarkanmu hingga kau sebesar ini. Tanpa dia tiadalah kau. Sekarang, ayahmu menunggu di depan pintu hampiri dia. Mintalah maaf dan jangan kau kecewakan lagi dia, harapan baik akan selalu ada untuk mu. Ayahmu masih hidup walaupun sudah tua renta, masih ada jalan untuk mu untuk membahagiakan dia. Buatlah ia tersenyum kembali berada didunia ini.

Penulis : Chefi Abdul Latif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara