Halaman

Jumat, 16 Juni 2023

Vol.V.Tan Malaka

Welcome to my blogg. Have nice a day and Always God Bless Us.

Vol.V.tan malaka

Selasa, 13 Juni 2023

cafe moal comel

 

TAN MALAKA

Penulis : Chefi Abdul Latif

 

Ibrahim gelar datuk sutan Malaka atau yang sering dikenal dengan sebutan Tan Malaka, lahir di Nagari Pandam Gadang, Kabupaten lima puluh kota, Sumatra barat. Tanggal lahir beliau tidak jelas dan bervariasi sumber informasinya namun yang jelas kemungkinan di tahun 1894 dan 1897. Tan malaka lahir dari ibu yang bernama Rangkayo Sinah Simabur yang merupakan putri dari seorang tokoh terpandang di desa tersebut. Sedangkah ayahnya yang bernama HM. Rasad Caniago sebagai buruh tani.

Tan Malaka tinggal bersama orang tuanya di Suliki dan belajar ilmu agama serta dilatih bela diri pencak silat. Tan malaka kecil suka berenang di arus yang deras dan berpetualang, hampir setiap hari ibunya memarahi dia karena kenakalannya. Ya, malaka kecil terkenal dengan seorang anak yang nakal tapi bagi penulis bukan nakal lebih ke hyperaktif. Meskipun nakal, disekolah dan dilingkungan masyarakat begitu kagum dengan kecermelangan berpikir Tan Malaka. Hingga suatu saat, karena kemiskinan orang tuanya tan malaka tidak bisa melanjutkan sekolah sehingga lingkungan masyarakat patungan untuk menyekolahkan Tan Malaka ke eropa. Masyarakat sekitar bersepakat bahwa tan malaka kelak akan membantu mereka dengan kecerdasannya. Waktu usia muda tan malaka juga membaca al-quran dan beliu masuk pada ahli al-quran.

Pada tahun 1908, tan malaka bersekolah di Kweekschool sekolah guru negeri, di Front de Kock. Disana tan malaka belajar bahasa belanda dan menjadi pemain sepak bola yang terampil. Menurut gurunya, G.H Horensma meskipun tan malaka terkadang tidak patuh, dia adalah murid yang baik. Beliau lulus pada tahun 1913, dan kembali ke desanya. Disaat pulang ke desanya, beliau mendapatkan gelar adat yang tinggi sebagai datuk dan tawaran tunangan. Namun, dia menerima gelar tersebut dan menolak tunangan. Lalu dia berhasil mendapatkan uang dari desa untuk melanjutkan pendidikannya keluar negeri ke Rotterdam pada tahun yang sama.

Ketika tiba di belanda, tan malaka awalnya belum mampu adaptasi. Disana, beliau meremehkan iklim eropa utara. Akibatnya, tan malaka terkena infeksi radang selaput dada pada awal 1914, dan ia tidak sepenuhnya sembuh hingga tahun 1915. Di eropa, beliau tertarik dengan pada sejarah revolusi. Karena dengan teori revolusi bisa mengubah masyarakat. Inspirasi pertama dalam revolusi, tan malaka membaca buku yang berjudul De Fransche Revolutie dari G.H. Horensma. Buku tersebut merupakan terjemah bahasa belanda dari sejarawan jerman, penulis, jurnalis, dan politikus Partai Demokrat Sosio Jerman, Willhelm Blos. Buku tersebut berkorelasi dengan revolusi Francis dan peristiwa sejarah di Francis pada tahun 1789 – 1804.

Selain itu, setelah revolusi rusia pada oktober 1917, tan malaka semakin tertarik dengan komunisme dan sosialisme dan sosialisme reformis. Dan, tan malaka mulai senang dengan membaca buku-buku dari Karl Marx, Friedrich Engels, dan Viadimir Lenin. Beliau terus belajar dan membaca buku-bukunya, sehingga ada salah satu kalimat yang menarik dari beliau yaitu, ”buku adalah peluru dan kata-kata adalah senjata”. Dengan ketekunannya, tan malaka menguasai 8.

Setelah urusan di eropa selesai, tan malaka pulang ke Indonesia dan memulai ikut berjuang dengan prinsip dan idealismenya. Dengan gerakan revolusinya, tan malaka selalu menjadi buronan jepan dan belanda bahkan menjadi buronan internasional. Dari hal tersebut, tan malaka memiliki 23 nama samaran dan pernah mengunjungi 11 negara. Diceritakan untuk bertahan hidup dan perjuangannya, Tan Malaka bekerja sebagai tukang ketik. begitu menarik cerita dari bapak revolusi satu ini, sebelumntya ada tokoh-tokoh revolusi indonesia yang diakui diantaranya yaitu Soekarno, Jendral Soedirman, Nasution, Amir Syarifudin, Syahrir, dan Tan Malaka. Bahkan ada yang menyampaikan ada 3 tokoh yang melangit dan membumi dengan idealismenya tapi merakyat yaitu soekarno, tan malaka dan gusdur. Tan Malaka selalu menjadi buah bibir dimanapun bukan hanya di negeri sendiri tetapi internasional pun mengakui dari sosok tan malaka ini.

Sarekat Islam terpecah, membentuk Sarekat Islam Putih yang dipimpin oleh Tjokroaminoto, dan Sarekat Islam Merah yang dipimpin oleh Semaun dan berpusat di Semarang. Usai kongres, Tan Malaka diminta Semaun pergi ke Semarang untuk bergabung dengan PKI. Dia menerima tawaran itu, dan pergi ke Semarang.  Sesampainya di Semarang, ia jatuh sakit. Sebulan kemudian, ia telah kembali sehat, dan berpartisipasi dalam pertemuan dengan sesama anggota Sarekat Islam Semarang. Pertemuan tersebut menyimpulkan bahwa diperlukan saingan dari sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah. Hal ini menyebabkan terciptanya sekolah baru, bernama Sekolah Sarekat Islam, yang akan lebih dikenal sebagai Sekolah Tan Malaka. Sekolah-sekolah tersebut menyebar ke Bandung dan Ternate, dengan pendaftaran dimulai pada tanggal 21 Juni 1921. Sekolah-sekolah tersebut merupakan alasan utama bagi gengsi Tan Malaka dan kebangkitan pesat PKI. Sebagai pedoman sekolah, Tan Malaka menulis SI Semarang dan Onderwijs, sebuah pedoman pengelolaan sekolah.

Pada bulan Juni 1921, Tan Malaka menjadi ketua Serikat Pegawai Pertjitakan (Asosiasi Pekerja Percetakan), dan menjabat sebagai wakil ketua dan bendahara Serikat Pegawai Pelikan Hindia (SPPH; Persatuan Pekerja Minyak Hindia). Antara Mei dan Agustus buku pertamanya, Sovjet atau Parlemen? (Soviet atau Parlemen?), yang dimuat dalam jurnal PKI, Soeara Ra'jat (Suara Rakyat); karyanya yang lain, termasuk artikel, diterbitkan di jurnal dan surat kabar PKI lain, Sinar Hindia (Bintang Hindia).  Pada bulan Juni, ia menjadi salah satu pemimpin Revolusioner Vakcentrale (Federasi Serikat Pekerja Revolusioner), dan pada bulan Agustus ia terpilih menjadi dewan redaksi jurnal SPPH, Soeara Tambang (Suara Penambang). Tan Malaka kemudian menggantikan Semaun, yang meninggalkan Hindia Belanda pada bulan Oktober, sebagai ketua PKI setelah kongres pada tanggal 24 – 25 Desember 1921 di Semarang. Perbedaan terlihat dari gaya kepemimpinan mereka, Semaun lebih berhati-hati, sedangkan Tan Malaka lebih radikal. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjalin hubungan baik dengan Sarekat Islam.

Pada 13 Februari 1922, beliau mengunjungi sebuah sekolah di Bandung, ia ditangkap oleh penguasa Belanda, yang merasa terancam dengan keberadaan Partai Komunis.  Dia pertama kali diasingkan ke Kupang; Namun, ia ingin diasingkan ke Belanda, dan dikirim ke sana oleh penguasa Belanda. Namun, tanggal kedatangannya di Belanda masih diperdebatkan. Di Belanda, ia bergabung dengan Partai Komunis Belanda (CPN) dan diangkat sebagai calon ketiga dari partai untuk Dewan Perwakilan Rakyat, pada pemilihan 1922. Dia adalah subjek kolonial Belanda pertama (karena dia berasal dari Hindia Belanda) yang pernah mencalonkan diri untuk jabatan di Belanda. Dia tidak berharap untuk terpilih karena di bawah sistem perwakilan berimbang yang digunakan, posisi ketiganya dalam tiket membuat pemilihannya sangat tidak mungkin. Tujuannya yang dinyatakan dalam pelarian bukan untuk mendapatkan platform untuk berbicara tentang tindakan Belanda di Indonesia, dan bekerja untuk membujuk CPN untuk mendukung kemerdekaan Indonesia. Meskipun dia tidak memenangkan kursi, dia menerima dukungan kuat yang tak terduga. Sebelum penghitungan suara selesai, dia meninggalkan Belanda dan pergi ke Jerman.

Di Berlin, ia bertemu dengan Darsono, seorang komunis Indonesia yang terkait dengan Biro Komintern Eropa Barat, dan mungkin bertemu M.N. Roy. Tan Malaka kemudian melanjutkan ke Moskow, dan tiba pada Oktober 1922 untuk berpartisipasi dalam Komite Eksekutif Komintern. Pada Kongres Komintern Dunia Keempat di Moskow, Tan Malaka mengusulkan agar komunisme dan Pan-Islamisme dapat berkolaborasi; Namun, usulannya ditolak oleh banyak orang. Pada Januari 1923, ia dan Semaun diangkat menjadi koresponden Die Rote Gewerkschafts-Internationale (Serikat Merah Internasional). Selama paruh pertama tahun 1923, ia juga menulis untuk jurnal-jurnal gerakan buruh Indonesia dan Belanda.

Ia juga menjadi agen Biro Timur Komintern saat ia melaporkan pleno ECCI pada bulan Juni 1923. Tan Malaka kemudian pergi ke Canton (sekarang Guangzhou), tiba pada bulan Desember 1923, dan mengedit jurnal bahasa Inggris, The Dawn, untuk sebuah organisasi pekerja transportasi Pasifik.  Pada Agustus 1924, Malaka meminta kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mengizinkannya pulang karena sakit. Pemerintah menerima ini, tetapi karena persyaratan yang memberatkan, dia akhirnya tidak pulang. Pada bulan Desember 1924, PKI mulai runtuh, karena ditindas oleh pemerintah Belanda. Sebagai tanggapan, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang diterbitkan di Kanton pada April 1925.  Di dalamnya dijelaskan keadaan dunia, dari Belanda yang mengalami krisis ekonomi, Hindia Belanda yang mendapat kesempatan untuk melakukan revolusi oleh gerakan nasionalis dan PKI, hingga prediksinya bahwa Amerika Serikat dan Jepang akan "menyelesaikan dengan pedang siapa di antara mereka yang lebih kuat di Pasifik”. Dimana buku tersebut menginsipirasi bung hatta dan bung karno dalam merebut kemerdekaan NKRI.

Berikut beberapa fakta yang menarik dari pemikiran tan malaka, penulis hanya mengambil 3 refensi buku tan malaka yaitu madilog, dari penjara kepenjara dan bapak republik yang dilupakan. Ada patuah tan malaka yang sampai saat ini menarik yaitu ”terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”. Beliau mengajarkan kita bahwa biarkanlah masalah apapun itu menjadi tantangan dan rintangan kita karena dengan begitu kita akan terbentuk. Mungkin kita pernah dengar dengan kalimat, ”tidak ada pelaut ulung yang tidak pernah menghantam ombak”, lalu apakah cr7 menjadi pemain terbaik dunia tidak dilahir dari benturan-benturan yang ada seperti latihan dengan keras, bangun lebih awal, latihan lebih banyak, dan lalu apakah para ahli saat ini seperti ahli ekonomi, ahli politik, ahli hukum dll bukan dari hasil benturan-benturan yang ada. Mustahil manusia tiba-tiba menjadi ahli tertentu kecuali dari proses yang pernah dijalani dan dilalui. Maka tan malaka mengajarkan kita bahwa proses itu mahal, nikmati saja prosesnya toh pada akhirnya kamu akan menunai hasilnya.

Salah satu pemikiran yang sampai saat ini menjadi bahan diskusi ialah MADILOG. Madilog terdiri dari tiga kata yaitu materialisme, dialetika dan logika. Dalam buku itu dijelaskan bahwa tan malaka memiliki pemikiran sendiri dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Caranya ialah :

1.       Mengubah cara berpikir (epistemologi)

Tempo lalu, masih banyak rakyat Indonesia berpikir fatalistik atau mistik yang orietasi kepada ketuhanan dan keakhiratan. Kalau kamu lapar ya cari makan, kalau kamu pengen kaya ya kamu bekerja, kalau kamu pengen cerdas ya kamu belajar, dan kalau kamu pengen merdeka ya berjuang. Jangan hanya diam dimesjid kemudian berdoa, makanan tidak akan pernah datang kalau kamu hanya diam berdoa. Oleh karena itu, tan malaka mengajak seluruh rakyat indonesia jangan berpikir fatalistik atau mistik. Karena kemerdekaan tidak bisa diraih kalau hanya berdoa dan beribadah di mesjid. Ayo bergerak ambil senjata dan berperanglah. Karena mau sampai kamu sujud bertahun-tahun pun kemerdekaan tidak bisa diraih. Maka harus dirubah terlebih dahulu cara berpikirnya.

2.       Percaya pada materi : konkrit

Ayo terima materi dan percaya pada materi. Dulu materi merupakan barang yang rendah karena kebanyakan masyarakat masih kental dengan tradisi dan budaya spiritual. Spiritual merupakan barang mewah. Mereka sering memprioritaskan akhirat dan surga. Tidak percaya dan menerima mengenai materi. Tan malaka mengajak masyarakat, ayo terima materi ini karena kalian hidup didunia. Ayo berpikir yang pasti-pasti saja. Ayo terima materi yang konkrit-konkrit saja. Urusan akhirat urusan nanti, tapi kalian hidup dunia terima dunia itu dan perjuangkan. Karena kamu masih di dunia ayo berpikir realistis. Beberapa kalimat masyarakat tempo lalu kurang lebih, ”tidak apa apa dijajah kita akan pulang ke akhirat karena dunia ini tempat sementara juga ko, kita harus mengejar surga kehidupan yang hakiki kita akhirat di surga”. tan malaka ingin mengubahnya, ayo berpikir realistis, kan kalian masih hidup di dunia maka bangun dan bangkit kamu masih butuh dunia akhirat itu urusan nanti maka terima materi ini sebagai barang mewah. Ayo bepikir konkrit yang pasti-pasti saja. Tan malaka menyampaikan materi itu bersifat fleksibel maka perlu dengan poin ketiga yaitu.

3.       Proses Dialetika

Untuk mendapatkan materi merdeka atau tidak merdeka, cerdas atau bodoh, kaya atau miskin, kenyang atau lapar maka diperlukan proses dialetika. Contoh perubahan sosial dari imprelisme berubah menjadi feodalisme lalu jadi kapitalisme kemudian sosialime dan akhirnya komunisme. Perubahan tersebut merupakan hasil dari dialetika. Indonesia menggunakan pancasila sebagai falsafah negara merupakan hasil dari dialetika, dan tulisan ini merupakan dari dialetika juga. Tan malaka menegaskan agar kita memahami materi maka diperlukan kemampuan proses dialetika.

Maka bersiyah inti poinnya ialah berkomunikasi maka lahirlah para duta besar tiap negara dan diplomat, hal ini sesuai denga firmah Allah SWT :

 

اُدْعُ اِÙ„ٰÙ‰ سَبِÙŠْÙ„ِ رَبِّÙƒَ بِالْØ­ِÙƒْÙ…َØ©ِ ÙˆَالْÙ…َÙˆْعِظَØ©ِ الْØ­َسَÙ†َØ©ِ ÙˆَجَادِÙ„ْÙ‡ُÙ…ْ بِالَّتِÙŠْ Ù‡ِÙŠَ اَØ­ْسَÙ†ُۗ اِÙ†َّ رَبَّÙƒَ Ù‡ُÙˆَ اَعْÙ„َÙ…ُ بِÙ…َÙ†ْ ضَÙ„َّ عَÙ†ْ سَبِÙŠْÙ„ِÙ‡ٖ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ اَعْÙ„َÙ…ُ بِالْÙ…ُÙ‡ْتَدِÙŠْÙ†َ

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

(an-nahl : 125)

 

Hadits : Al-Kharbu Khid’ah dan Kaidah kesatu ; Maa La yutimmul wajib “illa bihi, fahuwa wajib(apa yang tidak menyempurnakan suatu kewajiban kecuali dengannya, ia adalah wajib. Kewajiban di sini mengacu kepada jihad) dan Kaidah kedua : Albathilu binidhom sanyaghlibul hag bila nidhom (kebathilan dengan stratak akan mengalahkan kebenaran tanpa stratak). Kaidah tersebut harus dirubah menjadi : Al-Haq binidhom syaghlibul bathil binidhom (kebenaran yang disertai stratak akan mengalahkan kebhatilan yang diserta stratak).

(perjuangan paripurna : A. Dahlah R.)

 

4.       Berpikir Logis

Ayo berpikir logis untuk dalam menjalani proses dialetika agar tidak terjebak dengan kebohongan dan penipuan. Menguji  suatu kebenaran dan kesalahan dalam berpikir, tidak terjebak dengan pendustaan dalam komunikasi. Ayo meraih materi kemerdekaan dengan proses dialetika tapi dasarnya harus berpikir logis. Tidak lagi menggunakan variabel sunnatullah, apa-apa selalu disangkutkan dengan ketetapan Tuhan. Tan Malaka bilang jangan dulu menggunakan sunnatullah tapi cari apa penyebab dari hal tersebut bisa terjadi. Karena apapun pasti ada penyebabnya. Maka bagaimana bisa merdeka kalau hanya diam mengedepannya beribadah saja kepada Tuhan. Ayoo berpikir logis. Hukum kausalitas selalu berlaku menurut tan malaka. Kamu celaka dari motor pasti ada penyebabnya apakah ngantuk atau rem nya blong, dll. Maka dunia itu pasti ada hubungan dari sebab-akibatnya maka ayo berpikir logis. kalau mau merdeka ayo perang jangan diam.

Maka kesimpulan dari 4 diatas ialah dasarnya logika, isinya materi dan prosesnya dialetika. Maka kemerdekaan sebagai materi harus diperjuangkan dengan proses dialetika tapi agar bisa tepat dan benar strataknya diperlukan dengan berpikir logis.

Tan malaka memiliki visi yaitu visi kerakyatan, berikut penjelasan dari visi kerakyatannya :

1.       Pendiri partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak)

Kata Murba pertama disebutkan oleh Purbcaraka pada jaman ken arok singosari. Murba merupakan kumpulan rakyat jelata. Pemikiran tan malaka bertolak belakang dengan pemikiran soekarno, dimana soekarno memperjuangkan kemerdekan melalui perundingan-perundingan dengan pihak penjajah dan negara lain. Sedangkan tan malaka memperjuangkan kemerdekaan dengan perjuangan melalui MURBA. Strategi dan taktik tan malaka satu versi dengan jendral soedirman dimana memperjuangkan kemerdekaan tidak melalui perundingan akan tetapi melalui perang ke perang. Maka tan malaka dan jendral soedirman satu pemikiran tapi beda prinsip. tempo lalu, tan malaka mengajak soedirman satu barisan dengan mengkudeta soekarno dan hatta. Akan tetapi, pak soedirman tetap mengakui soekarno dan hatta sebagai presiden dengan tetap menggunakan strategi dan taktik yang sama dengan tan malaka yaitu bergerilya perang di hutan. Tan malaka memiliki idealisme yang kuat dimana beliau merebut kemerdekaan bersama rakyat menolak dengan perundingan-perundingan. Tan malaka memiliki gagasan yang terkenal yaitu ”MERDEKA 100%” nya. Beliau berpikir bahwa melalui perundingan justru ada keterlibatan negara lain dalam kemerdekaan Indonesia. Dan itu tidak murni langsung dari perjuangan rakyat Indonesia. Tan malaka mau kemerdekaan itu diraih atau didapat dari sepenuhnya perjuangan rakyat Indonesia. Pikiran tan malaka visioner kedepan, akibat dari perundingan bukan saat itu juga tetapi saat ini akan tetap dirasakan. Dikarena ada jasa kebaikan dari negara lain yang indonesia terima saat perundingan maka akan ada kepentingan politik dan ekonomi  sampai kapan pun. Dan hal itu terjadi, salah satunya ketika kaisar jepang membantu kemerdekaan indonesia kala itu maka banyak pabrikan otomotif yang berserakan di Indonesia, sehingga berdampak kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.  Tan malaka berpikir ayoo berjuang bersama rakyat dan raih kemerdekaan dengan merdeka 100%.

2.       Menolak kolonialisme, impreliasme, dan feodalisme

Melalui visi kerakyatannya tan malaka menolak begitu keras terkait dengan kolonialisme, impreliasmen, dan feodalisme. Karena dengan begitu akan terjadi penindasan dimana-mana.

3.       Kesejahteraan Rakyat

Salah satu visi tan malaka ialah bagaimana perjuangan yang beliau lakukan ialah untuk kesejahteran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain visi kerakyatan, tan malaka mengkritis politik dalam hal menolak dengan konsep trias politika yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dengan menggunakan trias politika akan terjadi ketimpangan beberapa hal seperti dalam hal kekayaan yang menang eksekutif, yang kuat menang eksekutif, kebijakan yang menang eksekutif, yang mengadakan rapat dengan anggaran 1 Milayaran ialah eksekutif, yang memanipulasi rakyat ialah eksekutif, yang megang media sosial dan media-media lainnya ialah eksekutif, yang mampu mempengaruhi legislatif ialah eksektuif, dll akan selalu dikuasi eksekutif. Dengan demikian akan terjadi banyak ketimpangan dan dampaknya ialah rakyat Indonesia. Contoh, rakyat Indonesia kan bayar pajak ya ? pajak kalian dibuatkan jalan tol, lalu kenapa kita harus bayar administrasi lagi ketika mau masuk jalan tol. Lebih sederhananya, saya ngasih duit buat ahmad 25.000 untuk beli roko, lalu kenapa ketika saya mau memakai rokok yang dibeli ahmad tersebut harus bayar lagi 2000 perbatang. Inilah contoh sistem kebobrokan eksekutif yang sewenang-wenang buat kebijakan. Begitupun contoh-contoh yang lainnya. Nah, tan malaka berpikir visioner kedepan kalau menggunakan trias politika akan terjadi penguasaan dari badan eksekutif daripada legislatif dan yudikatif.

Tan malaka merekomendasikan hal tersebut dibuatlah satu organisasi besar yang mengurusi negara, dimana ekskutif, legislatif dan yudikatif merupakan bagian fungsi dari satu organisasi tersebut, bukan sebagai badan khusus melainkan fungsi. Umpamnya seperti HMI komisariat sebagai satu organisasi besar, dimana didalamnya ada bidang-bidang yang memiliki fungsinya masing-masing. Begitupun eksekutif, legislatif, dan yudikatif merupakan bidang-bidang yang ada dalam satu organisasi besar negara tersebut seperti bidang-bidang yang ada dalam kepanitiaan.

Terakhir, menjelaskan bahwasannya Tan Malaka bukan komunisme pada akhirnya. Paragraf ini menjelaskan komunisme dan pan islamisme. Tempo lalu, memalui pemerintah banyak oknum-oknum yang memarketingkan bahwa komunisme itu jahat, komunisme itu bengis, komunisme itu akan menghanguskan agama, uncaknya tragefi G30S-PKI. Secara fakta memang versi komunisme muso bahwa komunisme tidak bisa berjalan dengan agama Islam maka aktvitas komunisme tidak bisa melibatkan agama. Doktrin itu sudah menyebar dimana-mana, oleh karenanya tan malaka berusaha untuk menetralisir terkait hal itu.  Pada saat tan malaka sebagai jubir asia komunisme ia menyampaikan dalam sebuah pidato bahwa komunisme tidak bisa lepas dari agama maka aktivitas komunisme harus beriringan dengan agama maka versi tan malaka muncul komunisme dan pan islamisme. Ternyata, usulan tersebut ditolak. Bahkan ketika ditanya siapa orang yang pertama kali akan digantung menurut muso ialah tan malaka karena sudah dianggap sebagai penghianat.

Sayangnya sejarah tan malaka tidak begitu dikenang padahal kontribusi untuk NKRI begitu besar, melalui bukunya Naar de Republiek Indonesia tahun 1925 menjadi referensi bung karno dan bung hatta bagaimana adanya Indonesia. Mari kita menilai secara objektif dari tan malaka tidak lagi merasa jijik dan hina ketika mendengar komunisme, ada sisi positif yang bisa kita pelajari dari tan sosok tan malaka dan versi komunismenya. Paling akhir tan malaka meninggal dunia oleh saudara-saudaranya waktu dan tempat kediaman terakhir tan malaka sampai sekarang tidak diketahui. Kita hanya bisa berdoa dan melanjutkan perjuangan-perjuangan dari beliau. Mari bersama kita rawat kedaulatan NKRI yang sudah diwariskan oleh para revolusi.

Tempo lalu pernah disampaikan “dimana ada cerita kapal Van Der Wijck disitu ada buya”, ”dimana ada pesawat disitu ada habibie”,  ”dimana ada keadilan disitu ada Umar II, ”dimana ada alfaruq disitu ada Umar bin Khattab”, dan sekarang ”dimana ada Naar de Republiek Indonesia disitu ada tan malaka”

Dari kami terima kasih bapak republik yang dilupakan, Tan Malaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara