Halaman

Senin, 20 Januari 2020

Secangkir Inspirasi Membuat Tersenyum Ibu di Hari Terakhirnya

Welcome to my blogg. Have nice a day and Always God Bless Us.


Kesan Terakhir Indahku Bersama Ibu



Ibu saya bilang perempuan harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. Saya merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan. Saya kalau mau makan tinggal menyuruh bibi sipembantu di rumah ini. Jadi tidak perlu masak masak, tinggal perintah dan makan. Begitu nikmat dan nyamannya hidup saya sekarang.

Dengan kehidupan yang saya jalani sekarang, ibu masih tetap saja sering menyuruh saya untuk bisa masak satu menu sepanjang hidupnya. Saya pun sering menolak perintah ibu. Malas dan mager rasanya belajar masak. Padahalkan tinggal perintah atau pesan lewat digital mudahkan. Buat apa sih repot-repot masak. Siapapun akan menginginkan kehidupan yang saya terima sekarang. Karena apapun menjadi mudah dan kemauan apapun bisa didapatkan.

Hingga terjadilah sebuah kecelakaan motor dengan mobil yang dikendarai orang tua saya. Ayah dan ibu terluka parah hingga mereka dibawa ke rumah sakit. Waktu itu saya sedang kuliah, saya diberitahu oleh pihak rumah sakit bahwa orang tua saya masuk ke rumah sakit karena mengalami kecelakan. Saat itu juga saya sok banget dan bergegas segera menuju ke rumah sakit.

Dan, sesampai di rumah sakit langsung menemui dokter yang menangani orang tua saya.

“Gimana dok, keadaan orang tua saya ?” Tanya saya

“Mohon maaf, saya tidak bisa menolong ayah mu. Dia sudah meninggal dunia kondisinya sangat kritis kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi alhamdulillah ibu mu bisa kami selamatkan. Dia sekarang lagi di ruangan sana, dari tadi ibumu memanggil beberapa kali anisa.” Penjelasan dokter

“Baik dok, terima kasih.” Air mata saya tak terbendung mendengar kabar itu

Saya pun masuk kedalam ruangan. Ternyata ibu sudah menanti disana. Begitu sedih melihat kondisi ibu sekarang dibalut dengan perban. Saya berdoa kepada Tuhan Semoga Ibu bisa sehat secepatnya.

“Ibu...!!” Saya menghampiri ibu dan memeluknya dengan mata terus mengeluarkan air.

“Iyaa nak, ibu ndak apa apa ko. In Syaa Allah ibu bisa segera sehat.” Ibu berusaha tegar

“Buuu....Ayah..ayah...ayah.”

“Iyaa nak, ayahmu sudah tidak ada. Sabar dan ikhlas yaa. Kita hadapi bersama dengan tabah.”  Jelas ibu

“Nak, bolehkah ibu minta satu permintaan . Boleh ga kalau ibu menyuruhmu memasak satu makanan. Ibu tidak suka makanan di rumah sakit ini, ingin rasanya ibu mencicipi makanan buatan mu.” Suara ibu memelas

“Baiklah bu. Sekarang anisa mau belajar masak dan akan membuat makanan yang enak buat ibu supaya ibu cepat sembuh.” Saya berusaha tegar

Keesokan harinya, saya mulai belajar masak  bareng pembantu saya. Beberapa kali saya coba buat makanan agar terasa enak. Hingga percobaan ke tujuh barulah pembantu saya mengakui cita rasa enaknya makanan buatan saya.

Siangnya saya coba bawakan hasil masakan saya ke rumah sakit agar ibu bisa mencicipinya. Sesampai dirumah sakit, ibu sedang tidur terlelap dan saya coba membangunkan.

“Bu..Bu Bangun..! Ini  anisa bawa makanan khusus buatan anisa sendiri.” Sambil menjingjin sebuah makanan

Ibu pun bangun dan terlihat nampak senang dengan kepribadian saya yang bisa masak saat ini.

“Sini nak, bawakan makanan itu ke ibu. Ibu tidak sabar ingin mencicipnya.!” Perintah Ibu

“Ini bu.” Menyodorkan makanan

Saya buka toples makanan itu dan saya suapin ibu. Ibu saya terlihat nampak senang sekali. Siang itu begitu indah bisa melihat ibu bisa terlihat  bahagia dan menyantap masakan saya. Namun, saya tidak mengetahuinya momen terindah itu adalah terakhir nya saya membuat ibu bahagia. Malam itu, tiba-tiba kondisi ibu tambah parah yang semula sudah membaik. Dan pada akhirnya malam itu jam 10.15 WIB ibu saya meninggal dunia. Begitu berharga kenangan itu buat saya. Sangat sedih rasanya dan begitu hancurnya hati ini.

Penulis : Chefi Abdul Latif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara