Halaman

Rabu, 22 Juni 2016

8 Masalah Hebat Menyebabkan Hidup Gagal



Delapan Problem Kemandirian Hidup



Kebodohan bukanlah karena penjajahan
Tetapi kebodohanlah yang mengundang penjajahan

Kini bangsa kita sedang menghadapi krisis yang luar biasa besarnya, yaitu krisis kualitas kemandirian. Krisis kemandirian ini bukan hanya terjadi pada lapisan masyarakat biasa, tetapi terjadi juga pada lapisan masyarakat terdidik. Begitu banyak fakta yang menunjukan keajaiban luar biasa, salah satunya terjadi ledakan pengangguran dikalangan lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya mencapai 2,5 juta orang. Keadaan ini berlangsung bukan semata mata karena faktor makro keadaan indonesia, tetapi lebih disebabkan karena faktor kualitas orang per orang. Penelusuran penulis selama lebih kurang tiga tahun, berhasil meginvetarisasi 8 problem MENDASAR kemandirian hidup, yakin :

o   Problem of knowledge
Hampir dapat dipastikan bahwa tidak mugkin seseorang dapat melakukan sesuatu hal, dari sesuatu yang dia tidak punya pengetahuan tentangnya. Ada sebagian diantara kita yang punya anggapan bahwa sesuatu hal bisa dilakukan dengan kebetulan saja Falsafah ‘kumaha engke‘ bukan ‘engke kumaha‘ menggambarkan betapa seseorang tidak menggambarkan betapa seseorang tidak menghargai pengetahuan sebagai bekal dalam melakukan sebuah tindakan. Pada kasus beberapa kali pelatihan kewirausahaan pada generasi muda termasuk mahasiswa, hampir sebagian besar merasa risau tentang sulitnya mendapat pekerjaan, tetapi yang ironis, jarang sekali diantara peserta sengaja bekal menghadapi berbagai kemungkinan sulitnya mencari pekerjaan.

o   Problem berpikir (Problem of thinking)
Tindakan yang salah dating dari pikiran yang salah dan perbuatan yang baik lahir dari pikiran yang baik. Pikiran bagi kehidupan manusia laksana matahari yang bisa menyinari seluruh kehidupan. Tindakan manusia yang diarahkan oleh pikiran yang keliru. Pasti menghasilkan perbuatan yang sekurang kurangnya tidak benar. Kesalahan berpikir seperti negative thinking dapat mengarah pada pesimisme dan kegagalan hidup.

o   Problem Motivasi (Problem of motivation)
Terlampau banyak orang yang bersedia untuk perubah dan keinginan hidup sukses. Namun, sayangnya banyak diantara mereka yang hanya menggunakan separoh dari motivasi yang dimilikinya. Mereka menyatakan seiap berubah dan bekerja. Tetapi hanya dalam takaran setengah hati. Untuk melihat seberapa besar Anda menggunakan motivasi. Ukut motivasi Anda dengan persyaratan bertingkat. Pertama, siapkah Anda untuk mengatakan ungkapan ‘aku orang sukses‘ tengah kerumunan orang banyak. Kesiapan berubah dramatis, bisa menggambarkan seberapa hebat Anda memiliki motivasi. Hal ini penting mengingat setiap prestasi sukses hanya mungkin dapat dicapai dengan kekuatan motivasi yang luar biasa. Orang sukses, selalu di awali dengan kesediaan beupaya tanpa mengenal lelah dan bekerja 24 jam penuh. Jika tidak percaya, coba perhatikan orang disekitar Anda yang sedang merintis usaha dengan motivasi total, pasti dipandang seperti orang ‘gila’, Gila bekerja, gila waktu, gila uang gila kemauan.

o   Problem mental (Problem of mental)
Melakukan usaha tentu tidak cukup hanya dengan berbekal fisik yang kuat, tetapi juga perlu memiliki daya tahan mental yang tinggi. Proses menuju hidup sukses, setara beratnya dengan perjalanan merasakan derita kemiskinan. Namun, antara keduanya berbeda pada ada atau tidak ada ujung. Perjuangan menempuh hidup sukses banyak mengejek atau menganggap remeh apa yang kita lakukan. Terlebih lagi bila perjuangan kita dalam kondisi yang kurang baik. Dalam keadaan seperti ini, jangan harap ada orang yang mendekati kita apalagi membantu. Kondisi ini, merupakan tekanan mental yang luar biasa. Allan White memberikan support, dengan ungkapan, jangau hiraukan :
Hinaan
Cercaan
Makian
Ejekan
Cemoohan
Guncingan
Fitnah
Hardikan
Kutukan dan sejenisnya.
Selama apa yang kita lakukan baik.
Ungkapan ini menasehati kita agar jangan terlalu mudah terpengaruh oleh orang lain, yang belum tentu lebih tahu ketimbang diri kita sendiri. Kukuhlah pada pendirian Anda dan terbentuklah pada saran atau masukan orang lain dengan cara memikirkan, menimbang, dan memutuskannya secara bijak. Orang lain dalam posisi apapun hanyalah menawarkan saran, bukan pemaksaaan, karenanya keputusan tetap berada pada diri Anda sendiri.

o   Problem lingkungan (Problem of environment)
Harapan yang berlebihan untuk menjadi PNS dari orang tua, acapkali lingkungan keluarga tidak berkehendak mendorong anaknya untuk hidup mandiri. Bahkan orang tua melarang anaknya bekerja atau berwirausaha sambil belajar atau kuliah. Padahal masa ini merupakan tonggak awal untuk mulai merasakan kenyataan hidup dan melihat kehidupan nyata secara objektif. Kalau bisa, justru harus dipikirkan bagaimana para pelajar dan mahasiswa kita bisa produktif, sehingga ketika selesai kuliah atau sekolah minimal sudah memiliki pengalaman usaha atau kerja yang bisa dijadikan modal untuk membuka pekerjaan baru pasca kuliah, agar tidak menjadi beban lingkungan.

o   Problem pergaulan (Problem of friendship)
Kita hidup melalui proses indentifikasi atau duplikasi terhadap orang lain. Kita bisa berbahasa sunda karena keseharian kita bergaul dengan orang yang berbahasa sunda. Bila kita ingin hidup mandiripun, maka bergaulah dengan orang yang punya pengalaman hidup mandiri. Pergaulan adalah sekolah yang paling mudah untuk dilakukan tapi tak banyak orang yang mau melakukannya. Dalam kehidupan masyarakat kita, tidak banyak proses pergaulan yang saling membelajarkan, saling mencerdaskan, saling mensejahterakan dan saling membahagiakan. Kita perlu merubah kultur pergaulan baru yang produktif dan saling memberdayakan. Ganti pergaulan yang hanya menghabiskan waktu, tenaga dan uang, oleh pergaulan yang menghasilkan uang dengan waktu dan tenaga yang efektif.

Bila anda bertemu orang dimana, kapan dan siapapun bicarakan hal hal yang sekiranya dapat mencapai tiga hal :
·      Survival Life, sekurang kurangnya bicara tentang pekerjaan dan pengalaman masing masing secara positif. Hindari obrolan yang membual, omong kosong atau hanya basa basi tanpa arah yang jelas.
·     Productive Life, bicaralah dengan sepenuh hati tentang hal hal yang meningkatkan produktivitas hidup, seperti membangun jaringan usaha, saling tukar produk, saling kunjungan usaha dan seterusnya.
·         Quality Life, tunjukan pada siapa, kapan dan dimanapun pribadi Anda memiliki kualitas pergaulan yang baik, sehingga orang mau dengan rela menunjukan kualitas dirinya untuk saling belajar. Hidup berkualitas tidak sekedar produktif bagi diri sendiri, tetapi juga mampu memproduktifkan pihak lain secara berkualitas.

o   Problem bimbingan (Problem of guideness)
Banyak orang tercengang ketika melihat orang orang keturunan Cina, dalam usia yang masih belia sudah bisa hidup mandiri. Bahkan rekan rekan mahasiswa keturunan Cina sudah mandiri sejak di bangku sekolah. Keadaan ini sebenernya merupakan hal yang harus terjadi, bukan lagi wajar terjadi karena mereka sudah mendapatkan bimbingan hidup mandiri sejak usia kanak kanak. Mereka dilatih untuk ikut menjadi pelayan di toko atau bertindak sebagai pemegang pembukuan bahkan banyak yang sengaja dibawa untuk melakukan promosi atau penawaran.

o   Problem aksi (Problem action)
Hampir setiap orang telah keberputusan bahwa hidup sukses sebagai pilihan. Namun tindakan untuk memulai selalu ditunda atau dijadwalkan ulang hingga batas waktu yang tidak tentu. Untuk memulai sesuatu memang sudah menjadi keputusan, tetapi baru keputusan untuk bertindak. Bertindaknya sendiri tidak pernah dilakukan. Perhatikanlah ilustrasi ini, ‘ ada tiga burung di pagar, satu burung ekor memutuskan untuk terbang, berapakah jumlah burung yang ada diatas pagar?. Bila Anda menjawab, dua menjawab, dua atau seekor burung, maka Anda benar benar mengalami problem aksi, sebab burung yang ada di atas pagar satupun belum ada yang terbang, tetapi baru memutuskan untuk terbang. Jadi jumlah burung tadi masih tetap tiga ekor.

Drs. Mursidin, M.Pd., M.BA.
chefi abdul latif 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara