Delapan Problem Kemandirian Hidup
Kebodohan bukanlah karena penjajahan
Tetapi kebodohanlah yang mengundang penjajahan
Kini bangsa kita sedang menghadapi krisis yang luar biasa besarnya, yaitu
krisis kualitas kemandirian. Krisis kemandirian ini bukan hanya terjadi pada
lapisan masyarakat biasa, tetapi terjadi juga pada lapisan masyarakat terdidik.
Begitu banyak fakta yang menunjukan keajaiban luar biasa, salah satunya terjadi
ledakan pengangguran dikalangan lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya
mencapai 2,5 juta orang. Keadaan ini berlangsung bukan semata mata karena faktor
makro keadaan indonesia, tetapi lebih disebabkan karena faktor kualitas orang
per orang. Penelusuran penulis selama lebih kurang tiga tahun, berhasil
meginvetarisasi 8 problem MENDASAR kemandirian hidup, yakin :
o
Problem of knowledge
Hampir dapat
dipastikan bahwa tidak mugkin seseorang dapat melakukan sesuatu hal, dari
sesuatu yang dia tidak punya pengetahuan tentangnya. Ada sebagian diantara kita
yang punya anggapan bahwa sesuatu hal bisa dilakukan dengan kebetulan saja
Falsafah ‘kumaha engke‘ bukan ‘engke kumaha‘ menggambarkan betapa seseorang
tidak menggambarkan betapa seseorang tidak menghargai pengetahuan sebagai bekal
dalam melakukan sebuah tindakan. Pada kasus beberapa kali pelatihan kewirausahaan
pada generasi muda termasuk mahasiswa, hampir sebagian besar merasa risau
tentang sulitnya mendapat pekerjaan, tetapi yang ironis, jarang sekali diantara
peserta sengaja bekal menghadapi berbagai kemungkinan sulitnya mencari
pekerjaan.
o Problem berpikir (Problem of
thinking)
Tindakan yang
salah dating dari pikiran yang salah dan perbuatan yang baik lahir dari pikiran
yang baik. Pikiran bagi kehidupan manusia laksana matahari yang bisa menyinari
seluruh kehidupan. Tindakan manusia yang diarahkan oleh pikiran yang keliru.
Pasti menghasilkan perbuatan yang sekurang kurangnya tidak benar. Kesalahan
berpikir seperti negative thinking dapat mengarah pada pesimisme dan kegagalan
hidup.
o Problem Motivasi (Problem of
motivation)
Terlampau banyak
orang yang bersedia untuk perubah dan keinginan hidup sukses. Namun, sayangnya
banyak diantara mereka yang hanya menggunakan separoh dari motivasi yang
dimilikinya. Mereka menyatakan seiap berubah dan bekerja. Tetapi hanya dalam
takaran setengah hati. Untuk melihat seberapa besar Anda menggunakan motivasi.
Ukut motivasi Anda dengan persyaratan bertingkat. Pertama, siapkah Anda untuk
mengatakan ungkapan ‘aku orang sukses‘ tengah kerumunan orang banyak. Kesiapan
berubah dramatis, bisa menggambarkan seberapa hebat Anda memiliki motivasi. Hal
ini penting mengingat setiap prestasi sukses hanya mungkin dapat dicapai dengan
kekuatan motivasi yang luar biasa. Orang sukses, selalu di awali dengan
kesediaan beupaya tanpa mengenal lelah dan bekerja 24 jam penuh. Jika tidak
percaya, coba perhatikan orang disekitar Anda yang sedang merintis usaha dengan
motivasi total, pasti dipandang seperti orang ‘gila’, Gila bekerja, gila waktu,
gila uang gila kemauan.
o Problem mental (Problem of
mental)
Melakukan usaha
tentu tidak cukup hanya dengan berbekal fisik yang kuat, tetapi juga perlu
memiliki daya tahan mental yang tinggi. Proses menuju hidup sukses, setara
beratnya dengan perjalanan merasakan derita kemiskinan. Namun, antara keduanya
berbeda pada ada atau tidak ada ujung. Perjuangan menempuh hidup sukses banyak
mengejek atau menganggap remeh apa yang kita lakukan. Terlebih lagi bila
perjuangan kita dalam kondisi yang kurang baik. Dalam keadaan seperti ini,
jangan harap ada orang yang mendekati kita apalagi membantu. Kondisi ini, merupakan
tekanan mental yang luar biasa. Allan White memberikan support, dengan
ungkapan, jangau hiraukan :
Hinaan
Cercaan
Makian
Ejekan
Cemoohan
Guncingan
Fitnah
Hardikan
Kutukan dan
sejenisnya.
Selama apa yang
kita lakukan baik.
Ungkapan ini
menasehati kita agar jangan terlalu mudah terpengaruh oleh orang lain, yang
belum tentu lebih tahu ketimbang diri kita sendiri. Kukuhlah pada pendirian
Anda dan terbentuklah pada saran atau masukan orang lain dengan cara
memikirkan, menimbang, dan memutuskannya secara bijak. Orang lain dalam posisi
apapun hanyalah menawarkan saran, bukan pemaksaaan, karenanya keputusan tetap
berada pada diri Anda sendiri.
o Problem lingkungan (Problem of
environment)
Harapan yang
berlebihan untuk menjadi PNS dari orang tua, acapkali lingkungan keluarga tidak
berkehendak mendorong anaknya untuk hidup mandiri. Bahkan orang tua melarang
anaknya bekerja atau berwirausaha sambil belajar atau kuliah. Padahal masa ini
merupakan tonggak awal untuk mulai merasakan kenyataan hidup dan melihat kehidupan
nyata secara objektif. Kalau bisa, justru harus dipikirkan bagaimana para
pelajar dan mahasiswa kita bisa produktif, sehingga ketika selesai kuliah atau
sekolah minimal sudah memiliki pengalaman usaha atau kerja yang bisa dijadikan
modal untuk membuka pekerjaan baru pasca kuliah, agar tidak menjadi beban
lingkungan.
o Problem pergaulan (Problem of
friendship)
Kita hidup
melalui proses indentifikasi atau duplikasi terhadap orang lain. Kita bisa
berbahasa sunda karena keseharian kita bergaul dengan orang yang berbahasa
sunda. Bila kita ingin hidup mandiripun, maka bergaulah dengan orang yang punya
pengalaman hidup mandiri. Pergaulan adalah sekolah yang paling mudah untuk
dilakukan tapi tak banyak orang yang mau melakukannya. Dalam kehidupan
masyarakat kita, tidak banyak proses pergaulan yang saling membelajarkan,
saling mencerdaskan, saling mensejahterakan dan saling membahagiakan. Kita
perlu merubah kultur pergaulan baru yang produktif dan saling memberdayakan.
Ganti pergaulan yang hanya menghabiskan waktu, tenaga dan uang, oleh pergaulan
yang menghasilkan uang dengan waktu dan tenaga yang efektif.
Bila anda bertemu
orang dimana, kapan dan siapapun bicarakan hal hal yang sekiranya dapat
mencapai tiga hal :
· Survival Life, sekurang kurangnya bicara tentang pekerjaan dan
pengalaman masing masing secara positif. Hindari obrolan yang membual, omong
kosong atau hanya basa basi tanpa arah yang jelas.
· Productive Life, bicaralah dengan
sepenuh hati tentang hal hal yang meningkatkan produktivitas hidup, seperti
membangun jaringan usaha, saling tukar produk, saling kunjungan usaha dan
seterusnya.
·
Quality Life, tunjukan pada siapa, kapan dan dimanapun pribadi Anda
memiliki kualitas pergaulan yang baik, sehingga orang mau dengan rela
menunjukan kualitas dirinya untuk saling belajar. Hidup berkualitas tidak
sekedar produktif bagi diri sendiri, tetapi juga mampu memproduktifkan pihak
lain secara berkualitas.
o Problem bimbingan (Problem of
guideness)
Banyak orang
tercengang ketika melihat orang orang keturunan Cina, dalam usia yang masih
belia sudah bisa hidup mandiri. Bahkan rekan rekan mahasiswa keturunan Cina
sudah mandiri sejak di bangku sekolah. Keadaan ini sebenernya merupakan hal
yang harus terjadi, bukan lagi wajar terjadi karena mereka sudah mendapatkan
bimbingan hidup mandiri sejak usia kanak kanak. Mereka dilatih untuk ikut
menjadi pelayan di toko atau bertindak sebagai pemegang pembukuan bahkan banyak
yang sengaja dibawa untuk melakukan promosi atau penawaran.
o Problem aksi (Problem action)
Hampir setiap
orang telah keberputusan bahwa hidup sukses sebagai pilihan. Namun tindakan
untuk memulai selalu ditunda atau dijadwalkan ulang hingga batas waktu yang
tidak tentu. Untuk memulai sesuatu memang sudah menjadi keputusan, tetapi baru
keputusan untuk bertindak. Bertindaknya sendiri tidak pernah dilakukan.
Perhatikanlah ilustrasi ini, ‘ ada tiga burung di pagar, satu burung ekor
memutuskan untuk terbang, berapakah jumlah burung yang ada diatas pagar?. Bila
Anda menjawab, dua menjawab, dua atau seekor burung, maka Anda benar benar
mengalami problem aksi, sebab burung yang ada di atas pagar satupun belum ada
yang terbang, tetapi baru memutuskan untuk terbang. Jadi jumlah burung tadi
masih tetap tiga ekor.
chefi abdul latif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya menunggu kritik dan kesan saudara