Falsafah Sunda dan Jawa
Orang maju karena dirinya
Berhasil menjadikan ruh etnis sebagai dirinya
Orang dibelahan dunia manapun memiliki sistem hidup kolektif yang merupakan
nilai dasar keyakinan yang dipanuti secara bersama. Kadang sistem ini terpancar
dalam sisi-sisi kehidupan manusia terkecil, seperti terselip dalam pola pikir
yang tidak terungkapkan. Sikap seseorang dalam menghadapi masalah, tindakan
yang dilakukan ketika ia akan mewujudkan impiannya dan ucapan yang bersifat
spontanitas.
Orang jawa atau mungkin etnis yang lainnya memiliki falsafah hidup sukses
yang muncul sebagai akumulasi berbagai harapan. Keinginan dan kenyataan yang
terpuji dari masa kemasa secara kolektif, antara lain :
1.
Garwo
Orang jawa punya falsafah
bahwa hidup sudah ‘jadi orang‘ manakala telah berkeluarga. Menikah pada waktu
yang tepat menjadi ukuran kesuksesan seseorang. Orang yang terlambat menikah,
dipandang gagal, karena diperkirakan terlalu perfeksionis (Ingin jodoh yang
segalanya ter...), karena memiliki visi hidup masa depan dan gagal membangun
hubungan inter dan antar pribadi
2.
Wismo
Rumah merupakan bagian
dari kebutuhan utama dalam kehidupan berkeluarga, karena itu, ukuran sukses
kedua setelah ‘garwo‘ adalah memiliki rumah sendiri. Kepemilikan rumah sebelum
menikah, selalu m, menjadi lambang kesiapan menapaki rumah tangga. Artinya
tangga atau tanjakan pertama telah terlewati.
3.
Pusoko
Setelah memiliki rumah,
maka tangga berikutnya adalah memiliki ‘pusoko‘, yaitu kekayaan tidak bergerak
berupa tanah, kebun, sawah, kolam kedudukan atau pekerjaan tetap yang bisa
diwariskan kepada anak cucu dikemudian hari.
4.
Turonggo
Turonggo berikut setelah
memiliki pusoko, tantangan berikutnya adalah tuntutan untuk memiliki turonggo,
kuda. Kuda merupakan simbol dari kesuksesan yang di capai orang jawa karena,
itu diartikan kendaraan. Maka orang akan dipandang berhasil dalam hidupnya apabila telah memiliki kendaraan.
5.
Kukilo
Burung dalam budaya jawa,
bukan saja sebagai kegemaran, tetapi sudah merupakan lambang dari strata
kehidupan sosial. Jika rumah yang agreng, elit dan mentereng dengan kendaraan
megah diparkir di garasi rumahnya, dipandang belum mencapai puncak prestasi
hidup manakala rumah belum dihiasi oleh burung perkutut yang sangkarnya mewah
bernilai jutaan rupiah.
Pada etnis sundapun ditemukan jejak jejak falsadah hidup yang sesungguhnya
bisa membuat
orang sudah lebih mandiri, antara lain tercerminnya falasafah
hidup tiga D:
1.
Dan
Tampilan paling mudah
dilihat dan diamati orang adalah lapisan terluar dari diri kita, yaitu
performance fisik. Tetapi benarkan tampilan yang berdifat fiskal itu penting ?
Tak ada yang bisa menyangkal bahwa apa yang ditampilkan orang, besar atau
kecil, merupakan refleksi dari apa yang ada pada bagian ‘dalam‘ manusia.
Flsafah ‘dan‘, yaitu bisa
dandan dengan penampilan yang menarik telah lama hidup subur dalam sanubari
masyarakat sunda. Seperti tatar sunda menyandang gelar Paris van Java, yaitu
tampilan yang tercermin dalam tata kota yang baik menarik dan menawan banyak
orang.
2.
Din
Orang tua kita acapkali
membimbing anaknya dengan ukuran ‘agama dan dari agama‘, artinya bahwa orang
sunda sejak lama menjunjung tinggi nilai nilai agama (ad-din) dalam kehidupan
sehari hari bahkan sampai kini ketika seorang mojang bandung ada yang melamar,
maka pertanyaan pertama muncul dari mulut orang tua, ‘apakah calon suamimu suka
menjalankan shalat ? Jika ya, maka pintu pertama sudah terbuka, jika tidak
orang tua menyimpan keraguan yang sangat luar biasa.
3.
Dun
Kesuksesan dalam kacamata
orang sunda dinilai juga dari kemampuan seseorang dalam meraih nilai nilai
duniawi secara wajar. Orang sunda pada umumnya masih punya penilaian bahwa
‘dun‘ merupakan indikator dari kemandirian seseorang dalam kehidupan. Orang
tuapun merasa lega manakala anaknya sudah bekerja dan berpenghasilan secara
wajar. Orang tua sering bilang juga, “omat nyien imah teh tong kapiheulaan ku
budak“
Drs. Mursidin, M.Pd., M.BA.
Penulis : chefi abdul latif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya menunggu kritik dan kesan saudara