Halaman

Minggu, 19 Juni 2016

Perbedaan Signifikan Suku Jawa dan Suku Sunda



Falsafah Sunda dan Jawa



Orang maju karena dirinya
Berhasil menjadikan ruh etnis sebagai dirinya

Orang dibelahan dunia manapun memiliki sistem hidup kolektif yang merupakan nilai dasar keyakinan yang dipanuti secara bersama. Kadang sistem ini terpancar dalam sisi-sisi kehidupan manusia terkecil, seperti terselip dalam pola pikir yang tidak terungkapkan. Sikap seseorang dalam menghadapi masalah, tindakan yang dilakukan ketika ia akan mewujudkan impiannya dan ucapan yang bersifat spontanitas.
Orang jawa atau mungkin etnis yang lainnya memiliki falsafah hidup sukses yang muncul sebagai akumulasi berbagai harapan. Keinginan dan kenyataan yang terpuji dari masa kemasa secara kolektif, antara lain :
1.       Garwo
Orang jawa punya falsafah bahwa hidup sudah ‘jadi orang‘ manakala telah berkeluarga. Menikah pada waktu yang tepat menjadi ukuran kesuksesan seseorang. Orang yang terlambat menikah, dipandang gagal, karena diperkirakan terlalu perfeksionis (Ingin jodoh yang segalanya ter...), karena memiliki visi hidup masa depan dan gagal membangun hubungan inter dan antar pribadi
2.       Wismo
Rumah merupakan bagian dari kebutuhan utama dalam kehidupan berkeluarga, karena itu, ukuran sukses kedua setelah ‘garwo‘ adalah memiliki rumah sendiri. Kepemilikan rumah sebelum menikah, selalu m, menjadi lambang kesiapan menapaki rumah tangga. Artinya tangga atau tanjakan pertama telah terlewati.
3.       Pusoko
Setelah memiliki rumah, maka tangga berikutnya adalah memiliki ‘pusoko‘, yaitu kekayaan tidak bergerak berupa tanah, kebun, sawah, kolam kedudukan atau pekerjaan tetap yang bisa diwariskan kepada anak cucu dikemudian hari.
4.       Turonggo
Turonggo berikut setelah memiliki pusoko, tantangan berikutnya adalah tuntutan untuk memiliki turonggo, kuda. Kuda merupakan simbol dari kesuksesan yang di capai orang jawa karena, itu diartikan kendaraan. Maka orang akan dipandang berhasil dalam  hidupnya apabila telah memiliki kendaraan.
5.       Kukilo
Burung dalam budaya jawa, bukan saja sebagai kegemaran, tetapi sudah merupakan lambang dari strata kehidupan sosial. Jika rumah yang agreng, elit dan mentereng dengan kendaraan megah diparkir di garasi rumahnya, dipandang belum mencapai puncak prestasi hidup manakala rumah belum dihiasi oleh burung perkutut yang sangkarnya mewah bernilai jutaan rupiah.

            Pada etnis sundapun ditemukan jejak jejak falsadah hidup yang sesungguhnya bisa membuat 
            orang sudah lebih mandiri, antara lain tercerminnya falasafah hidup tiga D:

1.       Dan
Tampilan paling mudah dilihat dan diamati orang adalah lapisan terluar dari diri kita, yaitu performance fisik. Tetapi benarkan tampilan yang berdifat fiskal itu penting ? Tak ada yang bisa menyangkal bahwa apa yang ditampilkan orang, besar atau kecil, merupakan refleksi dari apa yang ada pada bagian ‘dalam‘ manusia.
Flsafah ‘dan‘, yaitu bisa dandan dengan penampilan yang menarik telah lama hidup subur dalam sanubari masyarakat sunda. Seperti tatar sunda menyandang gelar Paris van Java, yaitu tampilan yang tercermin dalam tata kota yang baik menarik dan menawan banyak orang.
2.       Din
Orang tua kita acapkali membimbing anaknya dengan ukuran ‘agama dan dari agama‘, artinya bahwa orang sunda sejak lama menjunjung tinggi nilai nilai agama (ad-din) dalam kehidupan sehari hari bahkan sampai kini ketika seorang mojang bandung ada yang melamar, maka pertanyaan pertama muncul dari mulut orang tua, ‘apakah calon suamimu suka menjalankan shalat ? Jika ya, maka pintu pertama sudah terbuka, jika tidak orang tua menyimpan keraguan yang sangat luar biasa.
3.       Dun
Kesuksesan dalam kacamata orang sunda dinilai juga dari kemampuan seseorang dalam meraih nilai nilai duniawi secara wajar. Orang sunda pada umumnya masih punya penilaian bahwa ‘dun‘ merupakan indikator dari kemandirian seseorang dalam kehidupan. Orang tuapun merasa lega manakala anaknya sudah bekerja dan berpenghasilan secara wajar. Orang tua sering bilang juga, “omat nyien imah teh tong kapiheulaan ku budak“ 

Drs. Mursidin, M.Pd., M.BA.
Penulis : chefi abdul latif




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara