Welcome to my blog.
Have nice a day and Always God Bless Us.
Mati Ku Esok Hari
Tahun 2010
adalah tahun yang begitu indah bagiku. Tak salah aku mengatakan demikian,
karena pada tahun 2010 kelurga besar ku masih ada dan kumplit. Banyak hal yang
telah kami lakukan bersama. Selain itu, kami banyak di anugerahi limpahan
rizki, rumah luas, mobil 3 berlabel mercedes bens, BMWX dan Terrios mobil yang
biasa ku gunakan bersama keluargaku adventure mengelilingi pegunungan wilayah
indonesia.
Lebih dari
12 pegunungan yang berada di berbagai
wilayah Indonesia telah ku jajaki bersama. Dan itu sering kami lakukan ketika
mengisi hari libur sekolah. Tujuannya untuk mendekatkan diri kepada sang
Khalik. Caranya ? lewat tadabur alamlah yang kami bersama lakukan. Hingga kami
betul-betul merasakan kehadiran energi yang dahsyat memasuki relung hati ini.
Kami berpikir tak ada lagi maha besar kecuali Dzat Kuasa Allah Swt. Oleh karena
itulah, kami sekeluarga tidak menginginkan rasa sombong mendirikan rumah dan
menetap di hati ini.
Ayahku lah
yang senantiasa memberikan nasihat kepada putra putrinya untuk senantiasa
sederhana. Ku ingat kata-kata nasihatnya, “Nak, jika kamu suatu saat nanti
sudah berhasil banyak uang. Janganlah dibelikan barang-barang pribadi yang
kamu sendiri tak membutuhkannya. Tapi bantulah
saudaramu yang membutuhkan pertolonganmu. Walaupun kalian tau ayahmu ini
seorang pejabat tapi janganlah kalian merasa berbeda dengan yang lainnya. Maksud
ayah intinya sederhana.“ Ya, seperti itulah ayah. Ayah adalah tokoh teladan
dalam keluarga dan inspirasi bagi anak-anaknya.
Makanya
ayah sering mendapatkan pujian dari tetangga dan masyarakat luas karena wibawa
dan kesahajaannya. Dan kesahajaannya itu
nular kepada putra-putrinya. Dimana para putra nya sendiri senantiasa menjalani
kehidupan ini dengan kata "Secukupnya“.
Bukan ayah
saja. Ibu pula senantiasa mengajari kami sebuah kasih sayang antar sesama. Ku
ingat kejadian dulu, dikala ayah sebelum terpilih menjadi gubernur jawa barat,
dan kami masih tinggal di gubuk yang
begitu sangat sederhana. Pada masa itu, sebuah musibah menimpa keluarga
tetangga ku, dimana ibunya mencari pinjaman uang untuk membawa anaknya yang
sedang sakit berat ke rumah sakit untuk menjalani rawat.
Ibu
tersebut sudah mencarinya kesana kemari tapi hasilnya tetap nihil. Hingga
sampailah di depan rumah kami. Terjadilah dialog antara ibuku dan ibu dari anak
sakit tadi.
“Ada yang
bisa saya bantu bu..“ Tanya ibuku.
“Maaf bu.
Tujuan saya datang kemari hendak pinjem uang, untuk berobat anak saya.“ Kata
ibu tadi sambil menangis.
“Kenapa
anaknya bu?“
“Anak saya
lagi sakit. Ia mesti dirawat karena penyakitnya sudah tambah parah dan kami
tidak mempunyai biaya, maka dari itu saya berharap ibu bisa bersedia
meminjamkan uang.“
“Berapa
bu, biayanya?“
“Dua juta
lima ratus ribu rupiah."
Ibu lantas
merasa begitu iba melihat kondisi keluarganya. Dia merasa kebingungan entah apa
yang seharusnya ia lakukan. Karena, uang yang ia miliki saat ini merupakan
tabungan untuk berangkat ke tanah suci dan biaya sekolah untuk putra putrinya.
Sebelum ibu tambah bingung dengan keputusannya, maka ia mendiskusikan empat
mata dengan ayah di kamar. Entah apa saja yang dibicarakan ayah dan ibu, suara
diskusi mereka tak bisa kudengar dengan jelas.
Setelah
beberapa menit, akhirnya ibu dan ayah keluar dari kamarnya dengan membawa uang.
Terbersit di hati ini mengatakan “Pasti ibu dan ayah akan memberikannya.“ Dan
benar saja.
“Ini bu
uangnya. Semoga anak ibu bisa cepat sembuh“ kata ibu.
“Aamin.Alhamdulillah.
Terimakasih ya bu pak atas pinjaman uangnya. Mudah-mudahan uang ini bisa
bermanfaat. Dan insyaallah uang ini saya kembalikan beberapa bulan kedepan, ya
kalau bisa saya nanti usahakan secepatnya. Semoga ibu dan keluarga dimudahkan
dan dilapangkan rizkinya. Tuhan mencintai kalian. Sekali lagi terimakasih pak
bu.“
“Iya bu.
Sama-sama. Aamin.“ Tembal ayah dan ibu.
Setelah
itu, ibu tadi langsung berpamitan diri untuk segera membawa anaknya masuk rumah
sakit...
...
Nah, Demikian
lah ibu dan ayah dengan sifat dermawannya. Dimana mereka menolong orang itu
dengan penuh keikhlasan.
Aku banyak
belajar dari keluarga ku sendiri. aku sangat bersyukur bisa lahir dalam lingkungan keluarga dalam
kondisinya seperti ini. Tak ada hal suatu pun yang menggantikan kebahagiaan
selama ini ialah hanya keluarga ku.
Ditengah
malam yang begitu sunyi tak bisa menerkam suasana hati ini ketika kumpul
bersama keluarga. Aku begitu bahagia setiap hari, dimana keluarga yang penuh
dengan nilai luhur, penuh keharmonisan, penuh cinta dan kasih sayang, hingga
ibu dan ayahku tahu bagaimana cara mengajari anaknya untuk tumbuh menjadi
manusia yang berguna dimanapun dan dalam bidang apapun.
Dimana
kebahagiaan yang ku dapati malam ini, tidak ada duanya selama berbagai
kebahagiaan yang sudah saya dapatkan sebelumnya. Hingga tak terasa waktu sudah
melampaui batas waktu untuk tidur. Ku lirik jam di dinding putih itu sudah
menunjukan pukul 10.17 p.m.
Setelah
melihat jam tangannya, lantas ayahpun menyuruh anak-anaknya untuk tidur karena
besok harus sekolah. Begitupun ayah dan ibu berangkat untuk tidur juga karena
besok ada undangan dari camat acara resmi di kecamatan.
Dimalam
itu aku tidur dengan bermimpi yang tak pernah ku mimpikan sebelumnya, begitu
menakutkan dengan penuh kesedihan yang tiada tara, hingga mata ku mengeluarkan
air tanpa disadari. Hati ku merasa tak tenang, penuh kemisterian, dan
kemalangan. Bagaimana tidak demikian, aku bermimpi kedua orang tua ku meninggal
karena kecalakaan mobil.
Hari esok
yang dinantikan pun tiba. Pagi hari semuanya sudah ada di meja makan, dan siap
untuk sarapan pagi. Ayah selalu memimpin do’a sebelum makan bersama. Beberapa
menit kemudian, sarapan pun selesai dan setiap orang pada sibuk bersiap siap
untuk kegiatannya.
aku dan
kedua saudaraku berangkat ke sekolah di anter pak zaenudin. Sedangkan ibu dan
ayah pergi berdua berangkat ke undangan sebagaimana rencananya. Kali ini ayah
yang menyetir mobil di temani ibu, karena pak zaenudin supir keluarga harus
mengantarkan kami ke sekolah. Di perjalanan hati ku merasa gelisah tidak
seperti biasanya. Mungkin karena mimpi buruk tadi malam. “Apakah mimpi itu akan
terjadi ?“ Tanya hatiku. Semoga mimpi buruk itu hanya mimpi biasa saja. Ku
harap Tuhan melindungi ibu dan ayah diperjalanan sana. Aamin.
Bersambung.....Eps.1
Nantikan
episode selanjutnya... Tiba-tiba seseorang dari belakangan berteriak seperti
ada suatu hal yang penting ingin disampaikan...
Cal As-Sayyid Al-'Azhim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya menunggu kritik dan kesan saudara