Halaman

Rabu, 21 Desember 2016

Eps.1 Cerpen "Mati Ku Esok Hari"

Welcome to my blog. Have nice a day and Always God Bless Us.

Mati Ku Esok Hari


Tahun 2010 adalah tahun yang begitu indah bagiku. Tak salah aku mengatakan demikian, karena pada tahun 2010 kelurga besar ku masih ada dan kumplit. Banyak hal yang telah kami lakukan bersama. Selain itu, kami banyak di anugerahi limpahan rizki, rumah luas, mobil 3 berlabel mercedes bens, BMWX dan Terrios mobil yang biasa ku gunakan bersama keluargaku adventure mengelilingi pegunungan wilayah indonesia.

Lebih dari 12 pegunungan  yang berada di berbagai wilayah Indonesia telah ku jajaki bersama. Dan itu sering kami lakukan ketika mengisi hari libur sekolah. Tujuannya untuk mendekatkan diri kepada sang Khalik. Caranya ? lewat tadabur alamlah yang kami bersama lakukan. Hingga kami betul-betul merasakan kehadiran energi yang dahsyat memasuki relung hati ini. Kami berpikir tak ada lagi maha besar kecuali Dzat Kuasa Allah Swt. Oleh karena itulah, kami sekeluarga tidak menginginkan rasa sombong mendirikan rumah dan menetap di hati ini.

Ayahku lah yang senantiasa memberikan nasihat kepada putra putrinya untuk senantiasa sederhana. Ku ingat kata-kata nasihatnya, “Nak, jika kamu suatu saat nanti sudah berhasil banyak uang. Janganlah dibelikan barang-barang pribadi yang kamu  sendiri tak membutuhkannya. Tapi bantulah saudaramu yang membutuhkan pertolonganmu. Walaupun kalian tau ayahmu ini seorang pejabat tapi janganlah kalian merasa berbeda dengan yang lainnya. Maksud ayah intinya sederhana.“ Ya, seperti itulah ayah. Ayah adalah tokoh teladan dalam keluarga dan inspirasi bagi anak-anaknya.  

Makanya ayah sering mendapatkan pujian dari tetangga dan masyarakat luas karena wibawa dan  kesahajaannya. Dan kesahajaannya itu nular kepada putra-putrinya. Dimana para putra nya sendiri senantiasa menjalani kehidupan ini dengan kata  "Secukupnya“.

Bukan ayah saja. Ibu pula senantiasa mengajari kami sebuah kasih sayang antar sesama. Ku ingat kejadian dulu, dikala ayah sebelum terpilih menjadi gubernur jawa barat, dan kami masih tinggal di  gubuk yang begitu sangat sederhana. Pada masa itu, sebuah musibah menimpa keluarga tetangga ku, dimana ibunya mencari pinjaman uang untuk membawa anaknya yang sedang sakit berat ke rumah sakit untuk menjalani rawat.

Ibu tersebut sudah mencarinya kesana kemari tapi hasilnya tetap nihil. Hingga sampailah di depan rumah kami. Terjadilah dialog antara ibuku dan ibu dari anak sakit tadi.

“Ada yang bisa saya bantu bu..“ Tanya ibuku.
“Maaf bu. Tujuan saya datang kemari hendak pinjem uang, untuk berobat anak saya.“ Kata ibu tadi sambil menangis.

“Kenapa anaknya bu?“

“Anak saya lagi sakit. Ia mesti dirawat karena penyakitnya sudah tambah parah dan kami tidak mempunyai biaya, maka dari itu saya berharap ibu bisa bersedia meminjamkan uang.“

“Berapa bu, biayanya?“

“Dua juta lima ratus ribu rupiah."

Ibu lantas merasa begitu iba melihat kondisi keluarganya. Dia merasa kebingungan entah apa yang seharusnya ia lakukan. Karena, uang yang ia miliki saat ini merupakan tabungan untuk berangkat ke tanah suci dan biaya sekolah untuk putra putrinya. Sebelum ibu tambah bingung dengan keputusannya, maka ia mendiskusikan empat mata dengan ayah di kamar. Entah apa saja yang dibicarakan ayah dan ibu, suara diskusi mereka tak bisa kudengar dengan jelas.

Setelah beberapa menit, akhirnya ibu dan ayah keluar dari kamarnya dengan membawa uang. Terbersit di hati ini mengatakan “Pasti ibu dan ayah akan memberikannya.“ Dan benar saja.

“Ini bu uangnya. Semoga anak ibu bisa cepat sembuh“ kata ibu.

“Aamin.Alhamdulillah. Terimakasih ya bu pak atas pinjaman uangnya. Mudah-mudahan uang ini bisa bermanfaat. Dan insyaallah uang ini saya kembalikan beberapa bulan kedepan, ya kalau bisa saya nanti usahakan secepatnya. Semoga ibu dan keluarga dimudahkan dan dilapangkan rizkinya. Tuhan mencintai kalian. Sekali lagi terimakasih pak bu.“

“Iya bu. Sama-sama. Aamin.“ Tembal ayah dan ibu.
Setelah itu, ibu tadi langsung berpamitan diri untuk segera membawa anaknya masuk rumah sakit...
...

Nah, Demikian lah ibu dan ayah dengan sifat dermawannya. Dimana mereka menolong orang itu dengan penuh keikhlasan.

Aku banyak belajar dari keluarga ku sendiri. aku sangat bersyukur  bisa lahir dalam lingkungan keluarga dalam kondisinya seperti ini. Tak ada hal suatu pun yang menggantikan kebahagiaan selama ini ialah hanya keluarga ku.

Ditengah malam yang begitu sunyi tak bisa menerkam suasana hati ini ketika kumpul bersama keluarga. Aku begitu bahagia setiap hari, dimana keluarga yang penuh dengan nilai luhur, penuh keharmonisan, penuh cinta dan kasih sayang, hingga ibu dan ayahku tahu bagaimana cara mengajari anaknya untuk tumbuh menjadi manusia yang berguna dimanapun dan dalam bidang apapun.
Dimana kebahagiaan yang ku dapati malam ini, tidak ada duanya selama berbagai kebahagiaan yang sudah saya dapatkan sebelumnya. Hingga tak terasa waktu sudah melampaui batas waktu untuk tidur. Ku lirik jam di dinding putih itu sudah menunjukan pukul 10.17 p.m.

Setelah melihat jam tangannya, lantas ayahpun menyuruh anak-anaknya untuk tidur karena besok harus sekolah. Begitupun ayah dan ibu berangkat untuk tidur juga karena besok ada undangan dari camat acara resmi di kecamatan.

Dimalam itu aku tidur dengan bermimpi yang tak pernah ku mimpikan sebelumnya, begitu menakutkan dengan penuh kesedihan yang tiada tara, hingga mata ku mengeluarkan air tanpa disadari. Hati ku merasa tak tenang, penuh kemisterian, dan kemalangan. Bagaimana tidak demikian, aku bermimpi kedua orang tua ku meninggal karena kecalakaan mobil.

Hari esok yang dinantikan pun tiba. Pagi hari semuanya sudah ada di meja makan, dan siap untuk sarapan pagi. Ayah selalu memimpin do’a sebelum makan bersama. Beberapa menit kemudian, sarapan pun selesai dan setiap orang pada sibuk bersiap siap untuk kegiatannya.

aku dan kedua saudaraku berangkat ke sekolah di anter pak zaenudin. Sedangkan ibu dan ayah pergi berdua berangkat ke undangan sebagaimana rencananya. Kali ini ayah yang menyetir mobil di temani ibu, karena pak zaenudin supir keluarga harus mengantarkan kami ke sekolah. Di perjalanan hati ku merasa gelisah tidak seperti biasanya. Mungkin karena mimpi buruk tadi malam. “Apakah mimpi itu akan terjadi ?“ Tanya hatiku. Semoga mimpi buruk itu hanya mimpi biasa saja. Ku harap Tuhan melindungi ibu dan ayah diperjalanan sana. Aamin.

Bersambung.....Eps.1

Nantikan episode selanjutnya... Tiba-tiba seseorang dari belakangan berteriak seperti ada suatu hal yang penting ingin disampaikan...

Cal As-Sayyid Al-'Azhim


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara