Welcome to my blog.
Have nice a day and Always God Bless Us.
DUNIA
DIMENSI MANDAT DAN AMANAT
Amanat adalah sebuah hal dari seseorang yang
di percayakan kepada kita sendiri. Dan kita mempunyai kewajiban untuk
menjaganya hingga dimana masa orang pemberi amanat mengambil haknya itu.
Biasanya hal yang sering diamanatkan adalah kekuasaan, harta, atau barang-barang
yang relatif murah hargaya. Amanat menurut sebagian orang itu berat
menjalankannya, sedangkan sebagian orang lagi menganggap amanat begitu mudah.
Ya, memang penglihatan sudut pandang bisa mencerminkan karakter kehidupan
seseorang itu seperti apa.
Mandat dan amanat diberikan kepada seseorang
yang tidak sembarang. Mereka adalah para orang yang dapat dikatakan
kedisiplinan, cerdas dan penuh kebijaksanaan dalam hidupnya. Memang mereka adalah
orang-orang yang mendapatkan pendidikan tinggi, sehingga tidak salah para
pejabat yang duduk di bangku kekuasaan saat ini, bila dikalkulasikan 98%
lulusan dari universitas dalam dan luar negeri yang kualitasnya pada bagus.
Tentu dalam hal itu kita sudah mengetahuinya.
Namun, begitu disayangkan saat ini Negara Indonesia memiliki banyak orang yang
cerdas dan kemiskinan orang jujur. Di era globalisasi saat ini orang jujur
selalu kalah dengan orang kaya, dimana mereka bebas melakukan segala hal untuk mencapai
keinginannya tanpa dengan memperhatikan halal dan haramnya. Bagi mereka lebih
baik haram bisa mewujudkan segala impiannya. Walaupun dengan rela mengorbankan
harga diri dan kehormatannya. Terus, apakah kursi kekuasaan bisa dibeli dengan
uang ?
Bisa ‘Ya’ dan ‘Tidak’. Alasannya ? indonesia
walaupun terkenal dengan para koruptornya, akan tetapi masih banyak orang baik
didalamnya. Dimana mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan
hidupnya dengan jalan yang benar. Mereka tidak ingin sukses dengan instan.
Karena, filosofi hidup terkait dengan instan yaitu “Bila kalian hidup berhasil
dengan instan maka kehancurannya pun akan instan.” Kita tahu Allah Swt Maha
Raja dan Maha Adil, sehingga Dia bebas hendak melakukan apapun kepada
hanba-Nya, termasuk bagi orang yang jujur dengan kesulitannya.
Hidup di dunia memanglah demikian, dimana orang kuat dan kaya yang
mesti berkuasa bukan orang yang memiliki karakter dan memenuhi syarat sebagai
pemimpin. Dan itu terjadi pada saat ini, dimana orang cerdas dengan
kemiskinannya akan di kalahkan dengan orang kaya walaupun bodoh.
Dan jika negeri dipimpin oleh orang yang tidak
cerdas hanya menggunakan uangnya, maka bumi ibu pertiwi tidak akan lama lagi
akan mengalami kehancuran. Dimana banyak rakyat yang tidak mendapatkan
perhatian pemerintah, sedangkan aparat pemerintah bersenang riang dengan segala
apa yang ada. Astagfirullah.
Di sebagian daerah indonesia sudah mengenal
tradisi, “siapa yang banyak uang dia pemenang”. Faktanya, ada di daerah bagian
barat dimana dia menyalonkan sebagai kepala desa, untuk mendapatkan kursi itu
dia banyak mengeluarkan uang, dimana uang tersebut selain untuk dijadikan modal
kampanye yaitu untuk diberikan kepada tetangganya setiap pagi hari. Maksudnya
membeli hak pilih dari setiap orang agar dia mendapatkan suara terbanyak,
sehingga ia berhasil. Inilah yang dimaksud dengan sogokan.
Tradisi yang tidak mengherankan lagi bagi sebagian
orang. Terus ko bisa ya kebiasaan ini terjadi di bumi indonesia kita ? Ya, itu
karena ada yang mengawalinya. Dan setiap awal pasti ada akhirnya. Maka dari itu,
saatnya indonesia untuk mengakhiri itu semua, jangan lagi biarkan mereka para
tikus negara menggerogoti keuangan kita. Mari kita bergerak untuk menumpas
kejahatan besar ini. Karena, bila dibiarkan terus. Maka beban negara semakin
sempurna. Dimana problematika hidup terus bertambah hingga mencapai titik
puncak masalah.
Kalau sudah demikian ? siapa yang akan bertanggung jawab. Kalian kah ? Tidak.
Bukan kalian tapi kita bersama. Ya walaupun itu disebabkan oleh satu orang tapi
tetap satu atau beberapa orangpun tidak akan bisa mampu menyelesaikan
permasalahan yang demikian besar ini. Penulis tahu bahwa kita sebetulnya tidak
patut membantunya, dan biarkan mereka (pejabat) yang menyelesaikan permasalahan
itu.
Benar,
tapi apakah dengan dia bekerja sendiri hidup kita akan secepatnya pulih seperti
kehidupan sediakala. Tidak, yang ada waktu habis hanya untuk menunggu dia
melakukan perbaikan dari apa yang telah dia lakukan. Kalau kita hanya menunggu
duduk santai diatas sofa. Tindakan itu akan sia-sia saja, yang ada masalah akan
tambah parah.
Mau hidupmu mati karena menunggu orang lain
berhasil ? Tentu tidak. Hanya orang bodohlah yang menyatakan ‘setuju’. Memang
kita pantas untuk marah, membenci, dan mencacimaki nya. Tapi sudahlah jangan
terlalu panatik dan berlebihan. Sekarang kita improve diri sendiri, bukankah
kita juga pernah melakukan kesalahan, bukankah kita tau bagaimana rasanya bila
di hina oleh orang lain, bukankah kita
tahu bahwa sakitnya di cacimaki. Ya perasaan itu pernah kita alami, dan
begitu sakit rasanya. Walaupun dia pantas untuk mendapatkan itu semua, tapi
demi kehidupan bersama kita harus pula bekerjasama.
Dengan kondisi seperti ini jangan membuat ciut
mental kita. Kebanyakan dari kita sering menyalahkan keadaan, padahal semua hal
yang terjadi atas kehendak-Nya. Yang harus kita lakukan saat ini adalah
bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan kearah yang positif. Dan itu akan
menjadi pekerjaan berat untuk kita. Segala apapun membutuhkan proses untuk
mendapatkannya. Dan kita lakukan bersama. Setelah itu, kita tegakan hukum dengan
sebaik baiknya dan seadil adilnya. Agar tidak ada lagi yang berani untuk
melakukan praktik korupsi di bumi indonesia tercinta ini.
Membiarkan diri sendiri terjelengub ke lubang
penuh dengan kesesatan. Berarti anda telah menyakiti kehidupan anak, cucu dan
cicit mu kelak. Mau kah kehidupan anakmu itu sengsara ? Ya. Itu bisa kita atasi
mulai dari saat ini juga. Melakukan perubahan sejati demi kehidupan anak kita
yang lebih sejahtera.
Dalam setiap masalah kesempatan selalu ada.
namun, kembali lagi kepada diri sendiri. Maukah kita mengambil kesempatan itu,
supaya kelak tidak pernah kita sesali. Penulis mengingatkan agar tidak pernah
membiarkan sebuah kesempatan selagi itu belum pasti baik atau buruk yang akan
menimpamu. dengan catatan dimana kesempatan itu memberikan keyakinan kepada
dirimu sendiri untuk bisa berubah.
Cal As-Sayyid Al-‘Azhim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya menunggu kritik dan kesan saudara