Halaman

Kamis, 29 Desember 2016

Dunia Dimensi Mandat dan Amanat

Welcome to my blog. Have nice a day and Always God Bless Us.

                                   DUNIA DIMENSI MANDAT DAN AMANAT




Amanat adalah sebuah hal dari seseorang yang di percayakan kepada kita sendiri. Dan kita mempunyai kewajiban untuk menjaganya hingga dimana masa orang pemberi amanat mengambil haknya itu. Biasanya hal yang sering diamanatkan adalah kekuasaan, harta, atau barang-barang yang relatif murah hargaya. Amanat menurut sebagian orang itu berat menjalankannya, sedangkan sebagian orang lagi menganggap amanat begitu mudah. Ya, memang penglihatan sudut pandang bisa mencerminkan karakter kehidupan seseorang itu seperti apa.

Mandat dan amanat diberikan kepada seseorang yang tidak sembarang. Mereka adalah para orang yang dapat dikatakan kedisiplinan, cerdas dan penuh kebijaksanaan dalam hidupnya. Memang mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan tinggi, sehingga tidak salah para pejabat yang duduk di bangku kekuasaan saat ini, bila dikalkulasikan 98% lulusan dari universitas dalam dan luar negeri yang kualitasnya pada bagus.

Tentu dalam hal itu kita sudah mengetahuinya. Namun, begitu disayangkan saat ini Negara Indonesia memiliki banyak orang yang cerdas dan kemiskinan orang jujur. Di era globalisasi saat ini orang jujur selalu kalah dengan orang kaya, dimana mereka bebas  melakukan segala hal untuk mencapai keinginannya tanpa dengan memperhatikan halal dan haramnya. Bagi mereka lebih baik haram bisa mewujudkan segala impiannya. Walaupun dengan rela mengorbankan harga diri dan kehormatannya. Terus, apakah kursi kekuasaan bisa dibeli dengan uang ?

Bisa ‘Ya’ dan ‘Tidak’. Alasannya ? indonesia walaupun terkenal dengan para koruptornya, akan tetapi masih banyak orang baik didalamnya. Dimana mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan jalan yang benar. Mereka tidak ingin sukses dengan instan. Karena, filosofi hidup terkait dengan instan yaitu “Bila kalian hidup berhasil dengan instan maka kehancurannya pun akan instan.” Kita tahu Allah Swt Maha Raja dan Maha Adil, sehingga Dia bebas hendak melakukan apapun kepada hanba-Nya, termasuk bagi orang yang jujur dengan kesulitannya.

Hidup di dunia memanglah  demikian, dimana orang kuat dan kaya yang mesti berkuasa bukan orang yang memiliki karakter dan memenuhi syarat sebagai pemimpin. Dan itu terjadi pada saat ini, dimana orang cerdas dengan kemiskinannya akan di kalahkan dengan orang kaya walaupun bodoh.

Dan jika negeri dipimpin oleh orang yang tidak cerdas hanya menggunakan uangnya, maka bumi ibu pertiwi tidak akan lama lagi akan mengalami kehancuran. Dimana banyak rakyat yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah, sedangkan aparat pemerintah bersenang riang dengan segala apa yang ada. Astagfirullah.

Di sebagian daerah indonesia sudah mengenal tradisi, “siapa yang banyak uang dia pemenang”. Faktanya, ada di daerah bagian barat dimana dia menyalonkan sebagai kepala desa, untuk mendapatkan kursi itu dia banyak mengeluarkan uang, dimana uang tersebut selain untuk dijadikan modal kampanye yaitu untuk diberikan kepada tetangganya setiap pagi hari. Maksudnya membeli hak pilih dari setiap orang agar dia mendapatkan suara terbanyak, sehingga ia berhasil. Inilah yang dimaksud dengan sogokan.

Tradisi yang tidak mengherankan lagi bagi sebagian orang. Terus ko bisa ya kebiasaan ini terjadi di bumi indonesia kita ? Ya, itu karena ada yang mengawalinya. Dan setiap awal pasti ada akhirnya. Maka dari itu, saatnya indonesia untuk mengakhiri itu semua, jangan lagi biarkan mereka para tikus negara menggerogoti keuangan kita. Mari kita bergerak untuk menumpas kejahatan besar ini. Karena, bila dibiarkan terus. Maka beban negara semakin sempurna. Dimana problematika hidup terus bertambah hingga mencapai titik puncak masalah.

Kalau sudah demikian ? siapa yang  akan bertanggung jawab. Kalian kah ? Tidak. Bukan kalian tapi kita bersama. Ya walaupun itu disebabkan oleh satu orang tapi tetap satu atau beberapa orangpun tidak akan bisa mampu menyelesaikan permasalahan yang demikian besar ini. Penulis tahu bahwa kita sebetulnya tidak patut membantunya, dan biarkan mereka (pejabat) yang menyelesaikan permasalahan itu.

Benar, tapi apakah dengan dia bekerja sendiri hidup kita akan secepatnya pulih seperti kehidupan sediakala. Tidak, yang ada waktu habis hanya untuk menunggu dia melakukan perbaikan dari apa yang telah dia lakukan. Kalau kita hanya menunggu duduk santai diatas sofa. Tindakan itu akan sia-sia saja, yang ada masalah akan tambah parah.

Mau hidupmu mati karena menunggu orang lain berhasil ? Tentu tidak. Hanya orang bodohlah yang menyatakan ‘setuju’. Memang kita pantas untuk marah, membenci, dan mencacimaki nya. Tapi sudahlah jangan terlalu panatik dan berlebihan. Sekarang kita improve diri sendiri, bukankah kita juga pernah melakukan kesalahan, bukankah kita tau bagaimana rasanya bila di hina oleh orang lain, bukankah kita  tahu bahwa sakitnya di cacimaki. Ya perasaan itu pernah kita alami, dan begitu sakit rasanya. Walaupun dia pantas untuk mendapatkan itu semua, tapi demi kehidupan bersama kita harus pula bekerjasama.

Dengan kondisi seperti ini jangan membuat ciut mental kita. Kebanyakan dari kita sering menyalahkan keadaan, padahal semua hal yang terjadi atas kehendak-Nya. Yang harus kita lakukan saat ini adalah bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan kearah yang positif. Dan itu akan menjadi pekerjaan berat untuk kita. Segala apapun membutuhkan proses untuk mendapatkannya. Dan kita lakukan bersama. Setelah itu, kita tegakan hukum dengan sebaik baiknya dan seadil adilnya. Agar tidak ada lagi yang berani untuk melakukan praktik korupsi di bumi indonesia tercinta ini.

Membiarkan diri sendiri terjelengub ke lubang penuh dengan kesesatan. Berarti anda telah menyakiti kehidupan anak, cucu dan cicit mu kelak. Mau kah kehidupan anakmu itu sengsara ? Ya. Itu bisa kita atasi mulai dari saat ini juga. Melakukan perubahan sejati demi kehidupan anak kita yang lebih sejahtera.

Dalam setiap masalah kesempatan selalu ada. namun, kembali lagi kepada diri sendiri. Maukah kita mengambil kesempatan itu, supaya kelak tidak pernah kita sesali. Penulis mengingatkan agar tidak pernah membiarkan sebuah kesempatan selagi itu belum pasti baik atau buruk yang akan menimpamu. dengan catatan dimana kesempatan itu memberikan keyakinan kepada dirimu sendiri untuk bisa berubah.

Cal As-Sayyid Al-‘Azhim



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara