Halaman

Rabu, 02 Desember 2015

UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT DBD



UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT DBD





Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan laju penularan penykit DBD di masyarakat. Untuk mencapai tujuan ini, pengendalian kepadatan populasi vector DBD mendapat perhaatian yang besar.

          Cara yang paling efektif dalam pengendalian populasi larva dan vector DBD adalah dengan penatalaksanaan lingkukngan, yang selama ini dikenal dengann gerakan pemberantasan sarang nyamuk (GERTAK  PSN), di harapkan akan mengurangi kepadatan populasi larva dan vector DBD, yang secara langsung akan mengurangi kontak antara vector DBD dan manusia.

          Upaya penatalaksaan lingkungan antara lain dapat di tempuh dengan perbaikan suplai dan penyimpanan air, pengelolaan sampah padat serta modifikasi habitat larva nyamuk yang dibuat manusia.

Upaya perbaikan suplai dan penyimpanan air.

Upaya yang dapat ditempuh untuk menekan kepadatan populasi vector DBD di daerah perkotaan  adalah dengan memperbaiki suplai air rumah tangga (domestik) air bersih. Namun, pengiriman air bersih dan sehat domestic saja seperti yang dilakukan oleh PDAM misalnya, tidak memadai untuk mencapai tujuan ini.

          Sebagai contoh, setelah air besih disaluran melalui pipa ke banyak rumah tangga di satu kotamadya di Thailand ,WHO mencatat masyarakat masih menampung kira-kira delapan gentong air bersih di setiap rumah. Karena itu, penutupan wadah-wadah tersebut juga mesti mendapat perhatian masyarakat.

          Semestinya, wadah-wadah penampunan air bersih di rumah tangga, di rancang untuk mencegah vector DBD berkembang biak. Malaysia dapat menjadi contoh yang baik akan upaya ini. Di serak (Malaysia),wadah penyimpanan wadah air minum di buat dari politilen densitas tinggi yang memiliki layar dari bahan serat kaca pada lubang yang memungkinkan air hujan dapat tertampung, tetapi mencegah nyamuk dewasa dapat kelur-masuk untuk berkembang biak.

          Disini terihat jelas bahwa teknologi tepat guna akan sangat bermanfaat dalam mengurangi kepadatan vector DBD di masayarakat. Karena itu, pemarintah dan masayarakat perlu terus mengupayakan lahirnya teknologi seperti ini.

      A.    Pengelolaan sampah padat.
Prinsip pengelolaan sampah yang baik oleh masyarakat memenuhi criteria 3 R, yaitu:
      1.    Reduce (mengurangi kepadatan sampah) 

      2.    Re-use(memakai kembali barang bekas)

      3.    Recycle(mendaur ulang sampah)



©       Upaya mengurangi volume kepadatan sampah

     Pada awal 2007, kota bandung mengalami Sesutu masalah terkait dengan buruknya system pengelolaan sampah. Pemandangan kota kembang yang indah ini sempat tercemar oleh fenomena penumpukan sampah yang banyak di sudut kota. Beragam persoalan punbermunculan sebagai infliksai dari fenomena tersebut, utamanya sector kesehatan dan pariwisata.

     Pengelolaan sampah yang buruk potensional menimbulkan masalah kesehatan, terutama dengan masalah yang berhubungan dengan penyakit-penyakit infeksi, misalnya penyakit diare,disentris, bahkan penyakit DBD. Dan tidaklah adil rasanya, jika persoalan sampah ini semat-mata di bebanka kepada pemerintah atau dinas kebersihan. Masyarakat pun dapat berpartisipasi aktif dalam mengurangi volume dan kepadatan sampah, muli dari lingkungan rumah tangga.

©       Pembentukan kompos rumah tangga.

Pengelolaan sampah yang baik, sesungguhnya bisa di lakukan dengan memilah-milah sampah. Secara umum, sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan non-organik. Sampah organik ini persentasenya dapat mencapai kurang lebih 80% sehingga teknik pengomposan dapat menjadi alternatif yang tepat untuk mengurangi volume dan kepadatan sampah.

     Pengomposan merupakan penguraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologis dalam temperatur tinggi, dengan hasil akhir berupa bahan yang cukup baik untuk di aplikasikan ke tanah. Pengomposan dapat dilakukan secara bersih dan tanpa di menghasilkan kegaduhan di dalam maupun di lusr ruangan.

     Bahan baku pengomposan adalah semua materian organik yang mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan peliharaan, sampah yang banyak berasal dari tanaman di sekitar pekarangan rumah, ataupun sampah sayur-mayur sisa olaha.

     Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik, dengan satu tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang biasa digunakan aktivator kompos, seperti green phoskko organik decomposer dan SUPERFARM atau menggunakan cacing untuk mendapatkan kompos.

     Keunggulan dari proses pengomposan antaralain teknologinya yang sederhana, biaya penangan yang relatif murah, serta dapat menangani sampah dalam jumlah yang banyak.

     Pengomposan secara aerobik paling banyak yang digunakan, karena mudah dan murah untuk di lakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara. Adapun pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam mengurai bahan organik.

     Adapula keutungan yang akan diperoleh masyarakat dengan upaya pengomposan ini, antara lain terpeliharanya kebersihan dan keindahan lingkungan, serta keuntungan ekonomis jika pembuatan pupuk kompos ini bisa dilakukan dalam skala yang besar. Bukankah belakangan ini pemerintah tengah berupaya mengurangi pemakaian atau komsumsi pupuk kimia?? Pupk kompos tentu menjadi alternatif solusi yang tepat.

©       Upaya memakai ulang sampah

     Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita jumpai kebiasaan masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Misalnya saja penggunaan kantong pembukus berbahan plastik ketika membeli barang-barang atau kebutuhan rumah tangga, termasuk barang yang dikemas kering. Hah ini juga tifak terlepas dari kodisi belum banyak tersedia pembukus berbahan kertas di mayoritas toko kelontong atau pusat-pusat pembelanjaan di indonesia.

     Kantong plastik memang relatif lebih murah dan praktis, tetapi bahan pembukus ini tidak dapat di uraikan secara alamiah. Akibatnya, sampah berbahan plastik ini berpotensi menumpuk lama, dan dapat menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk sebgai vektor DBD.

     Dampak negatif dari kondisi di atas, dapat kita  minimalisasi dengan memakai ulang kantong-kantong plastik yang kita peroleh saat berbelanja barang-barang atau kebutuhan rumah tangga yang dikemas kering. Dengan demikian, dengan sendirinya volume sampah kering akan berkurang.

©       Upaya mendaur ulang sampah

Kegiatan mendaur ulang sampah dapat menjadi alternatif pengelolaan sampah padat yang baik, selain juga memiliki nilai ekonomis yang sangat menjanjikan. Saat ini, di daerah-daerah di indonesia banyk di jumpai industri rumah tangga yang bergerak di sektor usaha daur ulang. Keuntungan yang mereka peroleh mulai dari ratusan ribu perbulan, bahkan hingg jutaan rupiah. Sebagian produk hasil daur ulang ini bahkan bisa menembus pasar mancanegara.

Teknik dan peralatan yang relatif sederhana memungkinkan setiap orang untuk menekuni bidang usaha daur ulang ini. Sektor yang tidak sedikit menyerap tenaga kerja ini, perlu mendapatkan pembinaan dan dukungna dana dari pemerintah. Pembinaan ini terutama dalam bentuk pendampingan pemasaran produk hingga memperluas pangsa pasar. Masyarakat luas pun akan memperoleh manfaat tidak lansung melalui pengelolaan sampah padat dengan teknik ini, berupa lingkungan yang bersih dan sehat.

Semoga apa yang saya sampaikan dengan melalui artikel ini sobaatt semua dapat mengetahui bagaimana caranya agar terhindar dari bahaya DBD ini...:)

Penulis : chefi abdul latif
Sumber : buku kesehatan

May God Bless You 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya menunggu kritik dan kesan saudara